Abel

Kehadiran anak itu benar-benar membuat hidupku semakin ceria, berwarna, dan… berarti.

Tak bisa kubayangkan seandainya sepanjang hidupku, di rumahku tercinta, aku hanya hidup bersama suamiku tanpa bisa memberikan kepadanya seorang manusia mungil lambang dan penerus cinta kami berdua.

Tak bisa kubayangkan seandainya sepanjang hidupku, aku tinggal dalam ketidaksempurnaan, sebagai seorang perempuan!

Kata orang, hidupku benar-benar lengkap. Hidupku sempurna, menjadi dambaan setiap wanita yang menyaksikannya, membuat iri, membuat kepingin. Hidupku terlalu baik untuk kutangisi, malah seharusnya kusyukuri.

Sejak aku dilahirkan, aku telah merasakan apa yang mereka katakan sebagai kenikmatan dunia. aku dan keluargaku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta. Ayahku seorang pengusaha kelapa sawit yang sangat sukses. Ibuku merupakan wanita keturunan ningrat dan memiliki butik yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, bahkan ia mempunyai satu cabang di Singapura. Aku adalah anak mereka satu-satunya, oleh karenanya apapun yang kuminta mereka pasti memberikannya. Rumah yang begitu besar dengan taman yang luas merupakan tempat bermainku sejak kecil bersama dengan teman-temanku. aku disekolahkan bersama dengan anak-anak berkelimpahan lainnya di sebuah taman kanak-kanak yang sangat dikenal oleh masyarakat. Kemudian ketika aku mencapai sekolah dasar hingga menengah keatas aku aku disekolahkan di Singapura dan dimasukkan ke asrama untuk mengasahku menjadi pribadi yang mandiri—begitulah kata orangtuaku. Di sana, aku cukup berprestasi. Aku berhasil menjadi juara 1 sepanjang masa sekolahku dan menjuarai 4 kompetisi pidato tingkat sekolah dan nasional. Teman-temanku juga banyak, dan aku sempat membina hubungan spesial dengan seorang anak laki-laki berwajah rupawan dan cerdas di sana yang bernama George—blasteran Inggris-Cina—namun hubungan itu tidak berlangsung lama karena ketika kuliah, aku kembali ke Indonesia. Ya, meskipun aku merasakan kenikmatan hidup di sana, entah kenapa aku tidak bisa menolak ketika orangtuaku menyuruhku untuk kembali ke Indonesia. Mungkin karena rasa cinta dan rinduku kepada negeri itu yang membuatku memutuskan untuk kembali. Di sana, aku kuliah di sebuah universitas negeri yang katanya merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Aku masuk ke Fakultas Kedokteran, sesuai dengan apa yang aku cita-citakan selama ini. Tahun pertamaku kulalui dengan sangat baik. ketika tahun kedua, aku membina hubungan spesial dengan kakak kelas yang—katanya – sejak pertama kali melihatku pada masa orientasi telah jatuh hati padaku. Pendekatan kami berlangsung selama setahun. Jujur, dia tidak lebih tampan dari George, tinggi tubuhnya juga biasa saja. Wawasannya luas dan aktif berorganisasi, namun dalam hal akademis, dia biasa-biasa saja. Benar-benar jauh berbeda dari George, yang merupakan cinta pertamku. Namun, entah kenapa, dengannya aku merasa nyaman, ingin selalu memberi dan memberi kasih. Hubungan kami berlangsung hingga ke jenjang pernikahan. Ia menjadi seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta sembari mengambil S2 sementara aku memutuskan untuk membuka klinik di rumah. Kata mereka, hidupku benar-benar tidak punya kekurangan. Aku juga berpikir begitu, hingga akhirnya berita buruk itu menghampiri keluarga kecil kami.

Empat tahun kami menikah, namun kehadiran gelak tawa maupun tangis seorang anak belum mengisi rumah tangga kami. Suamiku tidak terlalu peduli akan hal itu, akulah yang begitu mempermasalahkannya, hal itu membuatku merasa tidak sempurna, berbeda. apalagi ketika melihat teman-temanku yang lain yang sudah memiliki anak bahkan di tahun pertama mereka menikah. Akhirnya, kami memutuskan untuk periksa ke dokter. Dan masalah ternyata ada padaku. Ada sebuah tumor di sana yang menghalangi kami—ku – untuk mempunyai seorang anak. Setelah mendengarnya, aku menangis. Suamiku memegang pundakku dan senantiasa membisikkan kata “tidak apa-apa, Bela”. Namun, hal itu membuatku sedih sekalipun aku bersyukur hanya tumor yang mendiami rahimku. Saat itu juga, aku menyatakan aku ingin dioperasi, untuk mengangkat tumor ini dari tubuhku. Operasi dijalankan dua minggu setelah pemeriksaanku. Sehari sebelumnya, aku bersama dengan suami dan orangtua kami masing-masing berdoa untuk kelancaran operasiku. Keesokan harinya, operasi berjalan. Yang diberikan kepadaku sepertinya bukan bius total, karena aku masih mendapati kesadaranku ketika operasi itu berlangsung dan aku berdoa saat itu kepada Tuhan.

Syukur kepada Tuhan, operasiku berjalan dengan saat lancar. Proses penyembuhanku juga hanya berlangsung seminggu. Semangatku untuk mempunyai anak semakin tinggi saja. Suamiku pun terlihat bahagia karena keberhasilan operasiku, dia berkata dia bersyukur karena dia sama sekali tidak kehilangan diriku. Aku mengiyakan dalam hati, menambahkan juga kalau aku bahkan akan menambahkan kepadanya seorang lagi dalam kehidupan kami.

Akan tetapi, setelah itu, aku harus menunggu lagi. setahun setelah operasi, masih saja tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang anak dalam hidup kami. Aku mulai frustasi, semakin kecewa ketika mendengar suamiku berkata bahwa aku terlalu berlebihan. Tidak mempunyai anak bukanlah suatu hal yang buruk , ia pernah berkata, dan mempunyai anak tidak akan membuatku menjadi wanita sempurna. Aku hanya bisa menangis sendiri. hingga suatu hari, aku benar-benar pasrah. Aku bahkan tak lagi memaksakan Tuhan untuk memberikan anak kepada kami bila memang Dia tidak berkenan. Hubunganku dengan suamiku perlahan membaik kembali dan kami memutuskan untuk berlibur menenangkan diri ke salah satu tempat di Bali.

Sebulan setelahnya, aku merasa ada sesuatu yang beda terjadi dengan tubuhku. Rasa mual, tidak enak badan melanda tubuhku. Saat itu, aku merasa yakin sedang ada satu kehidupan terbentuk dalam tubuhku. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku pergi ke dokter dan mendengar kalimat dari dokter itu benar-benar membuatku gembira. Aku hamil. Langsung kuberitakan hal ini pada suamiku, orangtuaku, dan mertuaku. Mereka begitu bahagia mendengarnya…

Dan sekarang, anak itu telah lahir. Abel namanya. Diambil dari huruf depan namanya dan beberapa huruf namaku. Adrian-Bela. Kami masih belum memikirkan nama panjangnya. Kami begitu bahagia—aku begitu bahagia.

Aku begitu bersyukur karena aku diberikan kesempatan untuk memiliki Abel, diberikan kesempatan untuk memberi seorang anak untuk suamiku. Aku merasa sempurna sebagai seorang wanita. Aku benar-benar bersyukur atas kehidupan yang Dia berikan.

Sekarang, hidup sempurnaku baru dimulai. Bersama suamiku, dan pujaan hati kami, Abel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s