Forgotten Season

Bukan salahmu jika tangan ini menggigil…

Akulah yang tak mampu menahan perasaanku

Sedari awal aku tahu, takkan pernah lagi ada kesempatan

Saat kupandang bahumu yang berlalu

Terhalang pucuk bunga Sakura…

25 September 2010

Lina memandang dari atas halaman sekolahnya dengan lesu tak bersemangat. Sudah tiga jam dia berada di ruang kelasnya, sendiri. Gadis bertubuh tinggi itu tak henti-hentinya berdecak sambil memandang jam dinding kelasnya. Melihat gerak-geriknya, Lina sepertinya tengah menunggu seseorang namun tidak muncul di waktu yang seharusnya.

Tak sabar, Lina merogoh tas yang tergeletak di meja dekat jendela ruang kelas tersebut, mengeluarkan hpnya,dan membuka contact numbernya. Beberapa saat jarinya menekan tombol mencari nama yang dicarinya. Ketika sampai pada nama “Takashi”, jarinya lantas menekan tombol berlambang telepon. Dia meletakkan benda kecil itu di dekat telinganya dan menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian…

Ne, Lina-chan,” ujar suara laki-laki seberang.

Ne,”Lina menahan nafasnya, berusaha menahan amarah. “Ima doko ni iru no?”

“mmm… jibun no heya. Nani?”

Mendengar hal itu, ekspresi Lina berubah. Wajahnya memerah dan sejenak memejamkan mata, berusaha menahan tangannya yang saat ini ingin melempar benda kecil yang tengah ia pakai sekarang itu. Terdengar satu helaan nafas sebelum berkata, “Yakusoku… oboeru ka, Kassy-kun?” dari cara dia menggerakkan bibirnya, terlihat jelas betapa geramnya Lina. Kalau efek animasi benar-benar ada di dunia nyata, saat ini dari kedua lubang hidung plus sebelah kuping Lina yang tidak dipakai untuk mendengar dari hp akan keluar kepulan asap disertai lenguhan kekesalan.

Yakusoku? Aaaaaa… Lina-chan! Gomen ne… wasure…chata…” ujar laki-laki yang ternyata

dipanggil Kassy itu. “Tadi aku kira sudah tidak ada apa-apa, jadi aku langsung kembali ke rumah…”

Lina menggenggam keras kulit tasnya seraya menggigit bibirnya. Ukh, ano otoko

Bakaaa!” serunya sebelum akhirnya mematikan koneksi mereka berdua. Ia kemudian langsung menonaktifkan hpnya, supaya tidak menerima telepon apapun dari orang yang saat ini membuatnya benar-benar kesal. Ia memasukkan hpnya ke dalam tasnya, menyampirkan tasnya ke kanan tangan kananya, kemudian berjalan ke luar kelas dengan penuh amarah.

Selalu begini selalu begini! Pikirnya kesal dalam hati. Kenapa dia tidak pernah sedikit saja memperhatikanku dengan sungguh-sungguh? Kenapa dia begitu bodooooooooh?

Kalau melihat situasi, wajar saja Lina kesal. Pacar tersayangnya itu sudah janji padanya untuk menjemputnya di sekolah. Dia sudah menunggu sekitar tiga jam, tapi Kassy malah…

“Arkh!” ujar Lina geram sambil menendang meja di sampingnya. Ia pun segera bergegas keluar ruangan.

Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya. Terlintas keraguan di benaknya, masihkah Kassy mencintainya?

Jujur saja, bagi Lina pribadi, bisa menjadi pacar Kassy adalah satu… keajaiban mungkin? Ya, keajaiban. Lina telah mengenal Kassy sejak SMP. Mereka berdua berada di kelas yang sama. Saat itu, Kassy merupakan salah satu murid pria populer di sekolah mereka. Selain karena wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi atletis, dan otaknya yang cerdas, ia juga jago olahraga dan ramah terhadap siapa saja. Ia juga taat beribadah. Hal itu membuat banyak gadis-gadis di sekolah mereka sangat mengaguminya, termasuk Lina. Dan ketika Kassy menyatakan perasaannya pada gadis blasteran Jepang-Indonesia itu di kelas tiga, jujur saja, ia hampir tidak percaya. Lina, yang merasa biasa saja baik fisik maupu otak dan hanya punya tubuh tinggi untuk dibanggakan, bisa menarik perhatian idola satu sekolah itu. Langsung saja tanpa pikir panjang, Lina menerima perasaan Kassy saat itu juga. Wuaaaah, pokoknya saat itu, sepertinya tidak ada lagi orang yang bisa sebahagia dia.

Ketika di SMA, mereka bersekolah di tempat berbeda. Lina memutuskan untuk bersekolah di Teitan Gakkoo* yang berada dekat dengan rumahnya, sementara Kassy di Tokyo Gakkoo*, salah satu SMA unggulan di Jepang. Kassy berencana untuk mendapatkan beasiswa ke Todai dan SMA tersebut kebetulan menyediakannya, itulah sebabnya Kassy memilih SMA tersebut daripada bersama dengan Lina di sekolah yang sama. Beberapa bulan setelah masuk SMA, semuanya berjalan baik-baik saja. Kassy selalu berusaha menjemput Lina sepulang sekolah, kecuali ketika ada kegiatan ekstrakulikuler. Ya, di awal Kassy masih ‘baik-baik’ saja.

Lama-lama, ada yang aneh dengan Kassy. Belakangan, Kassy sering lupa akan janji mereka, seperti yang terjadi hari ini. Yang terjadi hari ini bahkan belum apa-apa daripada yang terjadi selama ini. Contohnya, hari Sabtu dua minggu lalu, mereka berdua berjanji untuk pergi nonton plus ke Tokyo Tower bersama. Kassy menyuruh Lina untuk menunggunya di Hana Garden Place* sekitar pukul 10.00 am supaya mereka bisa lebih mudah mendapatkan kendaraan untuk pergi ke tempat tujuan. Lina sudah menunggu di sana tepat jam 10.00, seperti yang disuruh Kassy. Dua jam berlalu, Kassy tak kunjung datang dan ketika di telepon, Ibunya berkata kalau Kassy masih tidur. Bisa dibayangkan bukan gimana kesalnya Lina? Belum lagi ketika Lina mengajak Kassy menemaninya berbelanja, cowok itu sudah berjanji untuk menemaninya. Dia bahkan berjanji untuk menjemput Lina di rumahnya. Tapi yang terjadi…

Lina mengibaskan poninya ke belakang. Ahh… Kassy-kun, nani o shiteru no? apa mungkin kau tidak menyayangiku lagi? apa mungkin kau sudah menemukan gadis lain yang lebih pintar, cantik, berkelas di sekolahmu?

Pikiran yang sama terlintas kepala gadis itu sepanjang perjalanannya menuju rumah.

***

“Uaaaaaah” uap Lina lebar. Ia meregangkan otot – otot tubuhnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat ke arah jam tangannya. “Kyu ji datta?” ujarnya pelan, sedikit kaget. Dia melihat ke arah tubuhnya yang masih dibalut pakaian sekolah. Lina baru menyadari kalau ia sudah tertidur selama empat jam, semenjak ia sampai di rumah tadi. Dia bahkan belum sempat mengganti pakaiannya.

Dengan bibir terbuka menguap dan langkah diseret, Lina keluar dari kamarnya hendak mengambil handuk dan mandi. Di luar, ia bertemu dengan ibunya—yang daripadanya ia mendapat darah Jepang. Sekedar informasi, ayah Lina, yang merupakan keturunan Indonesia, saat ini tengah bertugas ke luar negeri. Ia bekerja untuk kedutaan besar Indonesia dan saat ini, bekerja untuk kedubes Indonesia di Cina. Setiap natal serta paskah ayahnya akan kembali ke Jepang untuk beribadah sekaligus berlibur bersama. Lina hanya tinggal berdua dengan Ibunya saat ini, karena Ibunya memang tidak ingin meninggalkan Jepang. Selain itu, Lina juga masih sekolah dan rasanya sayang sekali jika harus berpindah-pindah dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Ibunya hendak mematikan lampu sebelum akhirnya ia melihat Lina keluar dari kamarnya.

“Lina, kamu baru bangun?” tanya Ibunya sembari mengusap anak semata wayangnya itu. lina mengangguk sambil menguap.  Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu. “Sudah, sana mandi. Oh ya, kamu mau mandi dengan air panas?”

‘Tidak usah, Bu. Tidak begitu dingin kok.” Lina kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Tiba-tiba, suara Ibunya menghentikannya. “Ah ne, Lina. Tadi Takashi meneleponmu.” Lina kontan berbalik dan menghampiri Ibunya. “Kassy meneloponku, Bu?” tanyanya memastikan.

Ibunya mengangguk. “Un. Tadi dia menelepon sekitar jam setengah enam. Dia bilang telepon hpmu tidak bisa, sms juga pending terus. Jadi dia telepon ke rumah. Ibu bilang kamu lagi tidur, mungkin karena kecapean. Ya sudah, itu saja”

Lina memanyunkan bibirnya dan mengangguk. “Wakatta. Arigatou, Ibu.” Ujar Lina yang kemudian berbalik, berjalan menuju kamar mandi,diiringi dengan tatapan waswas Ibunya.

Seusai mandi dan berpakaian, Lina bergegas merogoh tasnya, mengambil hpnya, dan menyalakannya. Beberapa detik kemudian, hpnya berbunyi dengan nada yang sama, berturut-turut. SMS masuk ternyata, sebanyak… 15 sms dan dari orang yang sama.

“Kassy-kun” gumam Lina. Ia kemudian langsung membuka isi sms pertama.

‘Lina-chan, gomen ne… aku benar-benar lupa. Belakangan ini tugas-tugasku menumpuk. Bahkan makanpun aku lupa…”

“Lina-chan, apa kamu marah? tolong jawab teleponku… Aku minta maaf… Jangan marah… onegaiiiii >.<”

“Lina-chan, apa yang terjadi dengan hpmu? Aku baru sadar sms ku tak terkirim…”

“Lina-chan, hontou ni gomen! Belakangan ini memang aku sering lupa… aku tidak akan mengulangi kejadian-kejadian kemarin lagi… yakusoku!”

“Lina-chan… aku menyesal…’

Tanpa sadar, Lina menitikkan airmata dan jatuh menghampiri layar hpnya. Dia mengusap airmatanya sambil terus membaca sms-sms dari Kassy. Lina menarik nafas dalam-dalam, menahan agar airmatanya tak jatuh lebih banyak lagi. sesaat kemudian, ia menggerakkan jemarinya mencari nama Kassy di kontaknya, hendak meneleponnya. Tapi sebelum ia menekan tombol ‘call’, layar hpnya berkedap-kedip disusul dengan getar dan bunyi menandakan ada telepon masuk. “Kassy-kun…”

“A… Kassy-Kun…”

“Lina-chaaan, ah akhirnya. Ada apa dengan hpmu? Kenapa dari tadi tidak diangkat?” ujar suara lelaki seberang cemas. Lina menarik hidungnya menahan ingusnya turun. “Aku mematikan hpku.”

Aaa sou ka? Ne, Lina-chan, gomen ne. Tadi siang aku benar-benar lupa. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi belakangan ini aku memang sering melupakan sesuatu. Bahkan kemarin aku lupa mengerjakan prku. Ssss… taihen desu ne?” ocehnya. Lina hanya diam saja mendengarnya.

Ne, Lina-chan, kamu masih di sana kan?”

“Un…” ucap Lina pendek. “Kassy-kun, kamu bilang di sms tadi kamu menyesal kan?”

Hai!”

“Kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi?”

Haaaaaaaiiii! Mochiron

“Kalau begitu, Sabtu minggu depan, di Levina Garden kita merayakan hari jadi kita yang kedua.Kamu… akan ingat?” tanya Lina dengan penuh penekanan.

Hosh! Oboemasuyo!”

Lina tersenyum seraya menghapus sisa airmatanya.

***

 

 

Tanggal 31 September 2011.

Lina memandang layar hpnya yang berisi gambar dirinya dengan seorang lelaki di daerah yang sama tempat dia berada saat ini. Terlihat mereka memegang sekotak kue dengan lilin berbentuk angka berdua berdiri di tengah-tengah kue tersebut di bawah pohon sakura.

Mou ichi nen datta…” ujar gadis tersebut pelan. “Aku harap kamu senang di sana, Kassy-kun” ujarnya sambil memandang ke arah langit.

Masih jelas terekam di ingatan gadis itu peristiwa menyenangkan sekaligus yang menjadi titik balik hubungannya dengan Kassy. Masih terngiang jelas gelak tawa mereka bersama ketika bertemu siang itu. Betapa senangnya Lina akan kedatangan Kassy saat itu, bagaimana Kassy dengan antusias memberikan sekuntum bunga padanya sekaligus kue sebagai tanda perayaan hari jadi mereka. Bagaimana mereka, di bawah pohon Sakura yang saat itu mulai tumbuh rimbun, bersenda gurau, bermain bersama tanpa kenal waktu, mengambil foto bersama. Sampai kemudian…

“Kassy-kun, doushita no?” seru Lina saat itu ketika melihat Kassy terjatuh dan muntah usai mengambil gambar Lina yang berdiri di bawah pohon sakura.

Kassy hanya tersenyum seraya menggeleng. Namun dari bibirnya tak mampu keluar sepatah katapun. Akhirnya ia dibawa ke rumah sakit. Di sana, tak banyak informasi yang diperoleh Lina seputar keadaan Kassy. Saat itu Lina langsung pulang begitu orangtua pacarnya itu datang. Lagipula waktu itu Ibu Lina juga menyuruhnya pulang karena Ayahnya tiba-tiba saja pulang. Selang sebulan setelah itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Hingga akhirnya, Kassy mengajaknya bertemu di Levina Garden, lagi. Walaupun baru sebulan tak bertemu, Lina tahu ada perbedaan pada tubuh pria yang sangat disayanginya itu. Wajah putihnya pucat, sementara tubuhnya yang dulu atletis terlihat begitu… kurus dan letih.

“Kita putus saja ya…”ucapan tersebut keluar dari bibirnya saat itu dibarengi dengan senyuman. Spontan, tubuh Lina bergeming. Perlahan, airmatanya mendesak untuk keluar. Tanpa sempat menanyakan sebabnya, pria itu menutup bibir gadis itu dengan telunjuknya seraya berkata, “Arigatou, Lina-chan. Berjanjilah padaku untuk selalu berbahagia. Bahagiakan orangtuamu, orang-orang di sekitarmu. Berjanjilah padaku untuk selalu berdoa ketika kamu senang ataupun sedih. Berjanjilah…” Kassy menggigit bibirnya seraya menarik nafas. Matanya terlihat basa, membuat Lina semakin terisak. “Berjanjilah untuk melepaskanku sesegera mungkin…” Kassy mengecup dahi Lina selama beberapa saat sembari mengusap kepala Lina, yang saat itu, tengah meraung.

“Kassy-kun…”

Ja, Lina-chan!” ujar Kassy yang bergegas berbalik dan meninggalkan Lina saat itu.

Berulangkali gadis itu berteriak memanggilnya tanpa punya kekuatan untuk mengejarnya. Berulangkali gadis itu meneleponnya dan mengirimnya pesan. Berulangkali gadis itu datang ke rumah Kassy. Semuanya hanya untuk minta kejelasan dari pria tersebut.  Tapi tak satupun balasan datang. Hingga akhirnya Ibu Kassy angkat bicara dan menceritakan semuanya, yang menjawab pertanyaan Lina seputar keanehan Kassy selama ini. Klise, tapi benar adanya.

Pria itu mengidap kanker otak. Sudah sejak ia lulus SMP. Penyakit tersebut menyebabkan daya ingat Kassy menurun, bahkan terhadap hal-hal yang rutin ia kerjakan. Tak heran kalau ia sering melupakan janji dan pekerjaan yang harus ia lakukan, termasuk janjinya bersama Lina. Saat mereka berdua berkencan merupakan puncak ketahanan tubuh Kassy berakhir. Dan ketika Lina mengetahui hal ini, Kassy tengah berada di Amerika Serikat bersama Ayahnya untuk menjalani pengobatan. Kassy berpesan kepada Ibunya untuk tidak memberitahukan hal tersebut kepada Lina sampai ia pergi ke AS.

Secara rutin Ibunya memberitahu Lina seputar perkembangan Kassy. Dan dua hari yang lalu, Lina mendapat kabar terakhir dari Ibu Kassy. Ya, kabar terakhir… benar-benar terakhir.

Lina mendesis seraya menggigit bibirnya tatkala mengingat kenangan tersebut. Tanpa sadar, dompet yang ia pegang bergetar. Tak kuat, Lina mendekatkan dompet tersebut ke wajahnya. Terdengar isak tangis setelahnya.

Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka matanya. Terlihat olehnya bayangan seorang pria berlari, berlalu dari hadapannya. Terlihat oleh Lina bahunya yang tinggi namun lesu bergerak mengikuti langkah kakinya yang cepat. Dan ketika angin berhembus menggoyangkan pokok bunga Sakura, bayangan tersebut menghilang.

Atashi… kimo wo sugu hanasuyo.”

NB : *lokasi tersebut murni imajinasi penulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s