Rush In Love – Man of Fate

Aku melihat jam tanganku sambil berdecak bosan. Kugeser permukaan tanah dengan kaki kananku yang tampaknya juga bosan berdiri selama tiga puluh menit, sendirian, dekat tembok taman seperti orang bodoh. Seraya merutuk dalam hati akan kebodohan diriku terkait berbagai hal yang terjadi sebelum aku sampai di sini, aku mengarahkan pandangaku ke berbagai penjuru taman ini, mencari sosok yang kutunggu-tunggu.

Tak berapa lama, kudengar suatu suara nyaring terarah padaku diiringi suara langkah kaki yang terburu-buru. “Mayaaaaa…”

Aku menoleh dan menatap gadis berkepang kuda ini dengan sinis. “Bagus yaa, lo bikin gue nunggu untuk kesekian kalinya!”

“Aduuuh maaf May, semalam gue begadang terus jadinya bangun siang bangeet. Terus gue telfon lo tadi buat ngasih tahu gue telat tapi ga diangkaat.” Ujarnya dengan sedikit tersengal. Kelihatannya dia berlari begitu kencang karena keterlambatannya itu. Tapi sayang, saat ini aku sedang tidak punya rasa kasihan. Jadi terus saja kusemprot dia.

“Lo tuh kebiasaan ya, Emy. Begadang ga jelas terus bangun kesiangan dan akhirnya telat ngapa-ngapain. Masalahnya yaa hari ini gue uda batalin janji buat ketemuan ama Tommy cuman buat MAKAN BARENG LO! Tapi lo nya malah dateng telat. Gimana sih?!”

“Tapi gue uda coba nelfon looo May…”

“Ketinggalan di rumah!” balasku sarkas.

Cewek  yang sudah jadi temanku sejak SMP ini malah tersenyum usil mendengar ucapanku barusan dan berkata, “Kaaan berarti gue ga sepenuhnya salaah…”

Aku meliriknya dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin aku bisa berteman dengannya selama sembilan tahun ini?

“Terserah lo deh!” ujarku akhirnya. “Pokoknya lo harus traktir gue yang banyak hari ini! inget ya, lo harus bayar kerugian gue batal kencan ama Tommy terus bikin gue nunggu tiga puluh menit ga jelas cuman buat menanti lo!!”

Emy menatapku seraya meletakkan telapak tangannya ke sisi matanya, tanda hormat, dan berkata, “Siap, bos! Pokoknya hari ini kita senang-senang sepuasnyaaaa buat ngerayain ulang tahun gueee! Kan kita sahabaaat! Hehe…”

Aku mengedikkan bahu dan jalan duluan, pura-pura meninggalkan Emy. Seperti yang kuharapkan, dia dengan uring-uringan mengikutiku. Dan dengan kekanak-kanakannya, langkah kakiku kupercepat sehingga menyebabkan dia lebih terbirit-birit mengikutiku. Maklum, Emy termasuk cewek pendek dengan langkah kaki pendek pula sehingga sekalipun dia berlari sekencang yang dia bisa, bagiku yang tinggi bak model ini dia terlihat berjalan haha jahat ya aku. Tapi begitulah, persahabatan kami memang gak ada manis-manisnya seperti cewek-cewek kebanyakan.

Aku terus saja mempercepat langkahku hingga akhirnya aku mendengar teriakan Emy yang mengaduh kesakitan. Aku lantas menoleh dan melihat satu adegan yang cukup familiar di sinetron-sinetron abad 21 ini.

Emy, dengan pose setengah berdiri menghadap tanah, berada dalam genggaman seorang lelaki berkaca mata.

Dan yang membuat itu semua tampak lebih sinetron-ish lagi, mereka bertatapan selama beberapa waktu. Tepatnya, Emy menatap lelaki itu lurus, terlihat terpesona, dan tanpa berkedip sementara lelaki itu melihatnya dengan gugup dan salah tingkah.

Tanpa bermaksud mengacaukan suasana, aku mendekati mereka dan menarik Emy walau agak susah. “Makasih ya Mas…” ujarku singkat. Waw, dia tinggi juga, pikirku saaat aku harus mendongak untuk melihatnya.

“Oh gak apa, Mbak. Ini emang ada kaleng ganggu banget hehe saya buang aja kali ya biar ga ganggu orang lain. Permisi, Mbak.” Setelah memungut kaleng yang, tampaknya, membuat Emy terjatuh, ia melihat ke arah Emy dan berkata, “ Lain kali hati-hati ya, Mbak.” Dan berlalu.

 Aku melirik ke sebelahku dan mendapati Emy mengunci tatapannya ke cowok itu. aku hanya bisa menggelengkan kepalaku mengetahui bahwa sobatku yang satu ini fall at first sight.

He’s my man of fate.” Ujarnya.

“Apa?”

My man of fate!” dia menatapku dengan berbinar-binar “Mayaaaa ya ampuun doa gue terkabuul! Tuhan ngirim gue cowo di hari ulang tahun gueeee…”

Aku mengernyitkan dahiku dan berdesis. “Man of fate? Oh sis how could you believe such thing? Dan lo bahkan ga tahu namanya.”

“Aduuh lo kok gitu sih? Makanya kejar dia yuuk May…” dia menarik tanganku namun aku tetap bergeming. “Ahhh ayuuuk.”

“Uda telat, My. Dia uda ga keliatan lagi tuh ada di mana. Lagian freak abis ngajak kenalan tiba-tiba gitu. Ntar lo dikira cewek gatel! Males banget.” Ujarku sewot sembari menyilangkan kedua tanganku di dada. “Lagian tu orang kayanya tukang sampah deh, kaosnya tuh jorok banget hiih mungutin kaleng botol lagi. Masa orang kaya gitu sih yang dikirim buat jadi pacar lo?”

“Ihh May kok lo tega bangeet siih. Itu kan namanya baik, dia ga mau orang-orang celaka kaya gue gara-gara itu kaleng!”

“Ah… uda ah males gue bahas ginian! Bahas cowo ntar aja abis makan.” Omelku.

***

Aku berdiri di dekat pintu seraya melayangkan pandanganku ke seisi kelas mencari sesosok Emy di dalam. Ah, itu dia! Cewek itu duduk di salah satu kursi baris kedua di ujung kiri dan tengah asik melakukan sesuatu dengan telepon genggam baru hadiah ulang tahun dari kedua bosnya sambil senyum-senyum girang. Well, well, one day has passed but it seems she couldn’t stop being excited!

“Woy!” seruku sambil memukul pundaknya. Emy terlonjak dan menatapku dengan pandangan yang mengatakan, ‘lo mau gue mati?’. Aku hanya tertawa kecil dan lanjut menggodanya.

“Seneng amaaat siih yang dapet hape baruu.” Aku duduk di kursi sebelahnya.

“Iiih apaan sih biasa aja. Yah tapi emang hapenya lumayan seru sih. Aplikasinya banyak yang fuuuun. At least bisa bantu gue buat ga mati bosenlaah di kelas.” Balasnya sambil terus melakukan sesuatu dengan hapenya. Aku menengok dan well, she’s editing our recent photos hehe.

Seorang teman kemudian duduk di sebelahku dan memberitahu kami kalau dosen sudah datang. Lantas aku membenarkan posisi dudukku sementara Emy menyimpan cellphone barunya ke dalam tas lalu duduk dengan posisi yang benar (yah, aku gak tahu kenapa aku harus menjelaskan bagian ini).

Dalam hitungan detik, Ibu dosen kami sudah hadir di ambang pintu dan berjalan masuk ke dalam kelas, diikuti oleh seorang lelaki muda yang cukup tinggi dan berkaca mata. Eh tunggu, rasanya aku familiar dengan wajah itu?

Dan tiba-tiba saja, Emy meremas pergelangan tanganku. Saat aku menoleh, kulihat wajahnya merona merah dan matanya yang bulat berbinar tak karuan menatap lurus ke depan, ke sosok yang berdiri depan. Well, yang pasti bukan Ibu dosen.

Masih penasaran dengan pria itu sekaligus bingung dengan kelakuan Emy membuatku hanya bisa garuk-garuk kepala sambil melihat ke depan dengan harapan Ibu dosen bisa memberikan jawaban terhadap dua hal yang mengganggu pikiranku saat ini.

“Oke, class. Sebelum kita mulai kuliah kita hari ini, ada baiknya saya memberitahukan satu hal kepada kalian. Asdos kalian selama ini, yaitu Anton, sudah berangkat melanjutkan S2 ke Tokyo University dan karena itu otomatis dia tidak akan mengajar kalian lagi.”

Yak, tanpa perlu mendengarkan si Ibu, aku sudah bisa menyimpulkan siapa dia ini.

“Nah, Nak Edy inilah yang akan menggantikan Anton untuk menjadi asdos kalian.”

Oke, kesimpulanku benar. Tapi belum menjawab sama sekali keganjalan di pikiranku saat ini.

Aku memutuskan untuk mengabaikan penjelasan si Ibu di depan dan bertanya pada Emy.

“May, he’s my man of fate! Don’t you remember?” bisiknya sambil tetap tersenyum sumringah. Tatapannya benar-benar tidak pernah lepas dari sosok si Edy itu bahkan ketika dia berjalan menuju kursi di bagian belakang.

Oke, man of fate? Sounds familiar dan rasanya Emy pernah membicarakan hal itu sebelumnya tapi aku sama sekali ga inget pernah dengar itu di mana dan kapan.

Melihatku yang berkernyit kebingungan—well, akhirnya dia menyerah juga mencoba mengamati Edy yang duduk di belakang setelah gagal karena ditutup-tutupi oleh banyak tubuh—Emy mencubit pergelangan tanganku dan berbisik lagi, “Itu lhoo cowo yang kemarin?”

Cowo yang kema… ah! Si tukang sampah!

What? Ternyata dia…

Aku menoleh ke belakang dan kembali menatap Emy. “Oke, gue setuju sekarang kalo dia gak mirip tukang sampah.”

“Duuh sis, bukan itu poinnya~! Gue yakin, ini bukan kebetulan. Feeling gue bilang he’s really truly my man of fate! Oh my God! He’s meant to be miine” Emy menjerit pelan dan hampir saja melonjak kalau tidak kutahan.

“Aduuuh yang bener aja, My, lo percaya yang begituan. Lagian feeling mah ga bisa dipercaya. feeling kan sebenarnya diri lo yang ngomong sendiri, tapi dalam hati.”

“Tapi gue beneran pernah doain hal ini tahuuu, May. Anyway, lo ga denger apa tadi namanya? Edy. Edy-Emy. Cuman beda satu huruf doang di tengah. Oh my…”

Oke, percakapan ini mulai absurd. Karenanya, aku mengalihkan pandanganku ke depan, mencoba konsentrasi pada pelajaran si Ibu “Nama lo Emily, please banget.” Gumamku.

Gumamanku tampaknya cukup mempan membuat Emily berhenti mengoceh. Dia memukul pundakku sambil berdecak dan kemudian menghadap ke depan.

***

Aku kira pikiran ngaco sobatku ini hanya akan bertahan sehari dua hari saja, atau seminggu paling lama. Tapi ternyata aku salah.

Sudah dua bulan dia mempertahankan gagasan man of fate nya mengenai Edy sekalipun telingaku sudah panas mendengarnya dan mulutku sendiri sudah hampir berbuih memperingatkan kegilaannya itu. Aku heran bagaimana dia bisa bertahan hidup dengan pikiran sekacau itu.Tapi aku sendiri lebih heran terhadap diriku yang bisa tahan berteman dengannya.

Sekarang ini aku sedang menunggunya bersama Tommy di salah satu restoran fast food dekat kampus. Dia bilang dia akan menunjukkan bukti bahwa dia dan Edy memang dilahirkan untuk bersama.

Ngomong-ngomong ada satu hal yang belum aku beritahukan mengenai Emy. Seperti yang aku katakan sebelumnya, sudah dua bulan ini Emy tetap memegang pemikirannya mengenai Edy namun dia tidak berhenti sampai di situ saja. Emy melakukan berbagai cara untuk mendekati Edy, mulai dari aktif di kelas (yang biasanya tidak dia lakukan), meminta Edy menjadi guru privatnya untuk beberapa mata kuliah, sampai hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan pelajaran seperti mengantarkan bekal pada pria itu ke ruangannya—aku tidak bisa dan tidak mau membayangkan bagaimana reaksi asdos-asdos lain, membelikan buku-buku, aduuh banyaklah. Aku sendiri kalau jadi Edy tidak mungkin tidak menyadari perasaan suka Emy padanya. Emy is such a rush fool, really.

Dan dua hari yang lalu, dia memberitahuku bahwa akhirnya ia menyampaikan perasaan sukanya pada Edy dan, yang sampai saat ini masih sulit kupercaya, Edy juga menyukainya dan mereka jadian. Dan kata Emy lagi, saking senangnya ia sampai melompat-lompat sepanjang jalan meninggalkan ruangan asdos (bisa kalian bayangkan dia betapa gilanya dia?) hingga akhirnya dia terjatuh dari tangga, kepalanya membentur lantai, dan pingsan. Aku bersyukur dia tidak jadi lebih gila lagi setelahnya dan untungnya lagi, dia tidak terluka. Benjol sih, tapi tidak begitu besar dan kata tim kesehatan kampus dalam beberapa hari akan kembali normal lagi.

Jujur sejujur-jujurnya, aku meragukan pengakuan Emy padaku dan hari ini ia ingin membuktikan bahwa apa yang ia katakan itu benar. Dia tidak bilang dengan jelas bukti seperti apa yang ingin dia tunjukkan; dia hanya menyuruhku menunggu di restoran ini jam 3 sore.

“Jangan lupa ajak cowok lo juga, May. Siapa tahu kalau laki-laki bisa ngasih penilaian yang lebih baik ntar pas ngeliat gue ama Edy hihi…”

Aku agak bingung dengan ajakan yang satu ini yang menurutku sama sekali ga relevan. Dan soal penilaian sehubungan man of fate atau apalah itu, cowok kan biasanya justru skeptis abis ama yang begituan. Tapi berhubung aku juga penasaran penilaian seperti apa yang dimaksud oleh Emy, akhirnya aku putuskan untuk membawa Tommy. Paling tidak kalau dia tidak bisa melihat apakah mereka berdua memang dilahirkan untuk bersama, dia bisa menilai kesungguhan Edy terhadap Emy.

Finally, pucuk dicita ulam pun tiba. Emy yang dinanti sedari tadi akhirnya datang juga. Dia datang sendiri, agak meleset dari dugaanku. Dia sempet melihat sekeliling restoran dan kemudian mendapatiku tengah melambaikan tangan ke arahnya. Ia membalasnya dan kemudian berjalan menuju ke arah kami dan mengambil tempat di sebuah meja yang letaknya selang tiga meja dari tempat kami duduk. Dia tersenyum ke arahku dan kemudian memesan menu.

“Emy dateng sendirian, babe?” tanya Tommy.

Aku mengedikkan bahu. “Tau. Aku kirain dia bakal dateng ama Edy. Mmm, Edy nyusul kali ya, babe.”

Namun setelah sejam sosok Edy sama sekali belum muncul di restoran ini. Emy pun tampak tenang-tenang saja sepertinya, tidak terlihat kesal atau ga sabaran karena menunggu seseorang. Aku dan Tommy jadi bingung. Apalagi Emy daritadi senyum-senyum sendiri, juga ketawa-ketawa sendiri. Yah, sebenarnya ga terlalu aneh juga sih mengingat kelakuannya belakangan ini. Semoga saja dia ga delusional seperti kebanyakan fans fanatik artis-artis.

Tak berapa lama, Emy berdiri dan berjalan menghampiri kami dengan senyum sumringah.

“Gimana, May? Uda liat kan?”

Dahiku spontan berkernyit mendengar pertanyaan aneh itu. “Uda liat apaan, My?”

“Gue ama Edy. Mesra kaan kita tadi di sana? Keliatan banget kita berdua cucoook. Iya kan, Yang?” tiba-tiba Emy menoleh ke sebelahnya yang notabene tidak ada wujudnya sama sekali.

Spontan bulu kudukku merinding melihat tingkah laku Emy kali ini. seriusan, kalau dia lagi berusaha ngelawak, ini sama sekali ga lucu. Pilihannya ada dua, dia gila atau…

Nooo. Temen gue ga mungkin gila. Dia emang aneh, tapi dia ga gila.

Aku mencoba membuang pikiran anehku itu dan dengan perlahan bertanya padanya, “Lo ama siapa, My? Edy?”

Emy mengangguk sembari mengembangkan bibirnya. Melihat hal itu, pikiran anehku yang kedua semakin mengisi otakku dan tampaknya suara hatiku, yang biasanya selalu menjadi tokoh baik yang menetralkan pikiranku kalau dia sudah aneh-aneh, kali ini mendukung pikiranku habis-habisan.

“My, are you okay?” Tommy yang sedari tadi hanya menyaksikan akhirnya mengeluarkan suara. Tampaknya, dia sama herannya denganku dan mungkin juga memikirkan hal yang sama denganku. Tapi bedanya, dia tetap terlihat tenang.

Yes, why?” tanya Emy. Kemudian dia menoleh lagi padaku. “May, gue ga tahu ya hari ini lo kenapa jadi aneh gini. Tommy juga. Bisa jadi lo merasa bersalah karena uda ngeraguin feeling gue kemarin. But here we are now, stick together…” kemudian dia mengangkat sebelah tangannya yang seolah-olah memegang sesuatu—yah, dia memegang udara lebih tepatnya—dan melanjutkan, “… from now on and forever. Ya uda deh, kita pergi dulu ya. Have fun, you two…”

Setelah Emy pergi, sontak aku mengempaskan kepalaku ke dalam pangkuan tanganku di atas meja dan menggumam, “Ini gila, gila. Apa yang terjadi sih?”

Babe, itu tadi… di sebelah Emy gada orang kan?”

***

Akhirnya kebenaran terungkap juga.

Okay, aku akui aku sedikit lebai. Tapi ya, akhirnya aku akhirnya tahu sebenarnya apa yang terjadi. Dan kenyataannya cukup menyakitkan, bukan buatku—walaupun tentunya aku merasa sedih—tapi buat Emy.

Ternyata selama ini Emy hanya berhalusinasi semata soal hubungannya dengan Edy. Kurang lebih dua minggu Emy mengalami halusinasi itu sampai kemudian ia mendengar sendiri rencana pernikahan Edy dengan calon isterinya pada saat jam asistensi cowok itu, karena memang dia bermaksud mengundang para mahasiswa yang dibimbingnya untuk hadir di acara tersebut.

Saat mendengar hal itu, Emy spontan langsung menampar Edy dan berteriak-teriak meracau tak jelas. Aku berusaha menghentikan tindakan Emy sementara Edy dan seisi kelas lainnya hanya terpaku memandang tingkah laku Emy yang tak lazim ini. tak berapa lama setelah itu, Emy pingsan dan langsung kubawa pulang. Esoknya dia sama sekali tidak ke kampus dan menangis seharian di kamar.

Dan aku akhirnya mengkonfrontasi pria itu. Namun pria itu malah mengernyitkan dahi mendengar omonganku mengenai Emy yang jadian dengannya.

“Saya sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan Emy, Maya. Saya bahkan tidak pernah punya pikiran seperti itu.”

“Tapi, kak, Emy cerita ke saya kalau kakak menerima perasaan dia dan pacaran dengan dia. Dia bahkan sampai jatoh dari tangga saking senangnya, kak. Yah, walau saya akui dia jadi agak aneh tapi… aduh saya bingung juga…”

Edy menggaruk kepalanya dan meringis. “Saya rasa cerita kamu ada yang salah. Saya akui Emy pernah bilang dia suka sama saya, sekitar dua bulan lalu. Tapi saya tolak. Saya bilang kalau saya sudah punya tunangan dan akan segera menikah tahun ini.”

Aku tercengang. Hanya lengosan saja yang bisa keluar dari mulutku saat ini.

“Tapi saya akui saya agak kelewatan mungkin mengumumkan berita pernikahan saya tadi. Saya minta maaf. Tapi saya kira dia sudah melupakan hal itu. Habis saat di kelas dia terlihat biasa-biasa saja, malah excited sekali. Dan dia juga tidak pernah nganter bekal lagi so saya kira dia sudah melupakan perasaan dia ke saya.”

Itulah perkataan terakhir yang berhasil kudengar dan kucerna dari Edy.

Aku  memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada orang tua Emy, berhubung keadaan Emy semakin hari semakin mengkhawatirkan—dia seringkali menangis dan tertawa sekeras mungkin di kamar, kemudian berbicara sendiri seolah dia tengah berbicara dengan seseorang. Kami pun akhirnya membawa Emy ke psikiater.

Dan menurut psikiater itu, Emy mengalami skizrophrenia, yang kemudian diakibatkan kekecewaan karena gagal mendapatkan apa yang diinginkan sehingga membuatnya tidak mau menerima kenyataan dan memutuskan untuk menciptakan kenyataan versinya sendiri. Ada kemungkinan juga benturan di kepala Emy turut menyebabkan hal itu, walaupun porsinya kecil.

Aku hanya bisa menatap sahabatku yang tengah tertidur pulas di kamarnya dengan perasaan sedih. Dia dianjurkan untuk beristirahat di rumah selama beberapa hari dan minum obat penenang apabila ia terlihat mulai mengkhawatirkan. Selama beberapa waktu lamanya Emy juga akan melakukan terapi dengan psikiater itu. Ahh, semoga Emy bisa kembali sembuh.

Kuusap wajahnya yang polos itu dan bergumam, “I wish you got your truly man of fate in the right time, My. ”

 

–>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s