Review Post : Soulmate on The Backstage

Soulmate on The Backstage

Soulmate on The Backstage

 Judul : Soulmate on The Backstage

 Penulis : Nadia Silvarani
 Penerbit : Grasindo
 Jumlah Halaman :  210
 Tahun Publikasi : 2014 
 Bahasa : Indonesia
 Genre : Romansa
 Tempat pembelian :sewaktu peluncuran novel Soulmate on The Backstage

 Sinopsis dan Gambar Sampul : Goodreads

Sinopsis :

“The best actress jatuh kepada Amelia Larasati dari Sastra Pranciiiiis!”

Suasana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Negeri Indonesia malam ini begitu meriah. Laras, mahasiswi Sastra Prancis berwajah jutek itu, akhirnya menyabet penghargaan. Ia memang pemain teater berbakat.

Di atas penggung teater, Laras yang biasanya pendiam, kurang …berekspresi dan bahkan jutek, bisa berubah 180 derajat. Laras sanggup tertawa, marah, atau sedih dengan begitu sungguh-sungguh.

Namun, saat sang pelatih memintanya memerankan Adeline, seorang permaisuri kerajaan Eropa yang sedang jatuh cinta, Laras pun seolah menjadi anak teater kemarin sore. Aktingnya sangat kaku. Laras tak tahu apa itu jatuh cinta. Sudah sejak lama ia memutuskan tak terlibat perasaan lemah seperti itu. Perasaan itu hanya akan mengingatkannya pada seseorang yang tersimpan begitu dalam di lubuk hatinya, namun jauh dari pandangan matanya. Laras ingin menolak memerankan Adeline, tapi… itu berarti ia akan kehilangan mimpinya pergi ke Paris. Lalu, apa yang harus dilakukan Laras?

Apakah ia menerima peran Adeline dengan konsekuensi hatinya terluka? Atau ia rela melepas impiannya ke Paris?

***

Ameliananda Arlarasa Anindya Pramuswari Kirana Putri Abitama Aridipta… fuh! Bahkan untuk menuliskan nama ini pun sudah capek, apalagi mengucapkannya. Tapi itulah yang menjadi salah satu keunikan dari gadis muda yang akrab dipanggil Laras. Gadis ini punya hobi menarik yang telah ia tekuni semenjak ia berkuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Indonesia mengambil jurusan Sastra Prancis, yaitu berakting di atas pentas teater. Ditambah lagi, dia berambisi untuk pergi ke Paris, makanya dia mengambil Sastra Prancis untuk dia tekuni lebih dalam. Dua hal ini sangat berarti bagi Laras di tengah kehidupannya yang tidak ‘secerah’ teman-temannya. Baginya, teater dan Prancis adalah jembatan untuk mempertemukannya dengan sang ‘teman khayalan’…Ya, Laras punya teman khayalan! Siapakah teman khayalannya itu? Mungkin kita bahas hal lain dulu sebelum ke bagian ini.

Nah, karena kecintaannya kepada dunia akting ini terlihat begitu jelas melalui peran-peran yang ia lakoni, Laras mendapatkan penghargaan sebagai Best Actress di FIB Awards, suatu ajang penghargaan tingkat fakultas bagi insan seni yang ada di dalamnya. Dia mendapatkan penghargaan atas perannya yang memukau para juri sebagai seorang prajurit wanita gagah berani dari Prancis. Para juri sungguh terpukau dengan ekspresinya yang total ketika berakting.

Padahal di luar panggung, Laras ini adalah seseorang yang tidak bisa ekspresif; dia tidak terbiasa untuk menunjukkan perasaannya, entah itu senang, sedih, marah. Hal ini terjadi semenjak kematian ayahnya dan disusul dengan serangan depresi pada sang ibu. Dan yang paling buruk lagi, dia sukar untuk merasakan cinta. Dia bahkan merasa kalau dia tidak butuh hal itu sehingga tidak pernah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mendekatinya, termasuk teman satu jurusan sekaligus rekannya di teater, Arga. Sampai kemudian, suatu kejadian mulai meluluhkan kekerasan hati Laras…

Mas Gede, pelatih teater Laras dan teman-temannya, meminta Laras besera dua aktor lainnya yang terkenal berbakat, Arga dan Gilang, untuk menjadi tiga pemeran utama dalam drama bertemakan roman, dengan latar tempat di Eropa sekitar abad ke-18. Apabila mereka bertiga dapat bermain dengan baik, mereka akan diberi kesempatan untuk kursus akting selama sebulan di Paris dan segala biaya di sana ditanggung oleh sponsor. Tentu saja Laras, Arga, serta Gilang sangat termotivasi walaupun juga was-was, karena kalau salah satu saja dinilai tidak memuaskan, tidak satu pun dari antara mereka akan pergi ke Paris.

Dan ternyata, sekalipun mereka bertiga pemain berbakat, ternyata prosesnya tidak berjalan dengan mulus…

Laras ternyata kesulitan menjiwai perannya sebagai isteri dari Raja Alfred yang diperankan oleh Arga, yaitu Ratu Adeline. Dalam cerita itu, Ratu Adeline yang ditinggal sang suami untuk pergi berperang malah jatuh cinta dengan tangan kanan Raja Alfred, yaitu Rozlard. Laras sama sekali tidak suka dengan karakter Adeline yang begitu tunduk pada cinta dan terlihat lemah. Perannya kali ini sangat berbeda dengan peran-perannya terdahulu, yang menceritakan sosok wanita yang tangguh , tidak mudah menyerah, dan tidak mudah terbawa perasaan, jauh berbeda dengan sosok Adeline ini. Akibatnya, Laras tak henti-hentinya dimarahin oleh Mas Gede. Laras sendiri merasa tidak enak dengan Arga dan Gilang karena berpotensi menyebabkan mereka batal pergi belajar. Dia bahkan sempat menyampaikan keinginannya untuk mundur kepada Mas Gede, yang tentunya sangat ditentang oleh pria banyol itu karena talenta Laras yang begitu menjanjikan.

Sepupu Laras sendiri, Farahman Aulia atau Fara, terheran-heran menyaksikan ketiadaan semangat dalam diri Laras untuk melakoni peran Adeline itu. Fara sendiri menduga mungkin karena Laras belum pernah punya pacar, jadi dia belum pernah merasakan cinta. Kalau sudah begitu memang sulit. Tapi ketika tengah membereskan foto-foto keluarga mereka, tanpa sengaja Fara menemukan foto Laras ketika masih SMA dulu. Di foto tersebut, Laras tampak begitu ceria dan berbinar, sangat berbeda dengan dirinya yang biasa, dirinya setelah ayahnya meninggal.

Singkat cerita, Fara akhirnya tahu penyebab di balik keceriaan Laras di foto itu. Tak hanya itu, dia pun tahu bagaimana caranya menumbuhkan perasaan cinta pada diri gadis itu, yang tak hanya akan membantunya untuk menjiwai Adeline, tapi juga bisa mengembalikan cinta lamanya.

Dan cinta lama itu adalah alasan di balik impian gadis itu akan dunia teater, Prancis, dan teman khayalannya.

Cinta pertama bukan sembarang cinta

Di perasaan itulah, untuk pertama kalinya, seseorang belajar menerima, memaklumi, dan menghargai segala kelemahan seorang manusia.

Tidak peduli seberapa besar kekurangannya, hati sudah terlanjur memilih sang pujaan. Dan sebagai manusia yang tak sempurna pula, aku berharap dirinya pun demikian, mau memaklumiku apa adanya.

Cinta pertama berbeda dengan cinta-cinta yang lain. Nafsu, emosi, dan keegoisan belum menempel di dalamnya. Cinta ini hanya mengandalkan kepolosan dan rasa kagum kepada orang lain.

Jangan pernah dimungkiri! Untuk merasakan cinta kedua, ketiga, keempat, kesepuluh, ketujuh belas, dua puluh, kesekian, dan terakhir kali, kau akan tetap menggunakan cinta pertama sebagai acuan untuk belajar mendalami perasaan sayang yang lain.

Karena pada saat cinta pertama, pengalaman pertamamu menyayangi dan berharap disayangi tumbuh bersamaan dengan perubahan drastis emosimu. p.176

Sesungguhnya, di bagian awal cerita, saya kurang menikmati. Mungkin, karena kehidupannya masih seputar Laras dan kehidupan teaternya dan belum masuk ke dalam konflik utamanya. Dan terus terang, tadinya saya pikir cerita ini berkisah akan kegalauan remaja masa kini. Apalagi, kalau membaca judul novel dan melihat sampulnya. Tapi ternyata tidak demikian. Tampilannya memang sangat remaja dan bahasanya juga lugas dan tidak seperti kebanyakan karya sastra lainnya, tapi ceritanya mengandung pesan yang bagus mengenai dua hal penting dalam hidup manusia : impian dan cinta.

Kenapa impian? Bisa dilihat dari si tokoh utama, Laras, yang sangat bersemangat untuk meraih mimpinya menjadi seorang pemain teater profesional dan pergi ke Prancis meskipun pilihan tersebut tidak disukai oleh ibunya. Dia berjuang untuk bisa mendalami peran-perannya dengan baik. Dan sekalipun ia kehilangan motivasi utamanya, tidak lantas ia berhenti. Bisa ditebak Laras dan impiannya berakhir seperti apa :p

Dan cinta… yah, tentunya hal ini tidak lepas dari novel yang salah satu tema utamanya adalah makhluk satu ini. Tapi cinta yang tertera dalam novel ini tidak sebatas cinta eros alias ala sepasang kekasih semata. Cinta pada orang tua juga menjadi poin penting dalam cerita ini, terlihat dari sosok Laras yang masih belum bisa melupakan ayahnya dan sangat ingin ibunya sembuh dan tidak merasa ketakutan lagi. Sekalipun ibunya sendiri sulit untuk memberikan kasih yang Laras butuhkan karena kondisi batinnya yang masih terguncang, Laras tetap berusaha menunjukkan rasa sayangnya lewat hal-hal kecil.

Cinta ala sepasang kekasihnya sendiri juga tidak norak atau yang memicu kegalauan (aseek). Aku sendiri suka bagaimana cinta pertama didefinisikan di dalam cerita ini. Sayangnya, ini baru terasa ketika mendekati akhir yang akhirnya membuatku juga baru merasakan ikatan dengan Laras saat itu juga. Tapi efeknya sudah cukup untuk mendorongku merenung sendiri (bukan galau, lho!).

Secara teknis sendiri, masih ada beberapa kesalahan pengetikan dan bahkan kesalahan nama tokoh. Hal itu diakui oleh penulisnya sendiri di dalam reviewnya (note : bikin link Goodreadsnya). Dialog bahasa Prancis-nya banyak, tapi pembaca bisa langsung mengerti karena sudah ada terjemahannya langsung di dalam kurung. Sekalian bisa belajar juga, bukan? (Walaupun saya sendiri tetap tidak mengerti cara membacanya hihi).

Ngomong-ngomong, sejujurnya saya tidak terlalu mengerti kaitan antara judul novel ini dengan alur ceritanya. Sudah mencoba menyambung-nyambungkan, tapi tetap rasanya tidak nyambung. Haha. Ini pendapat saya pribadi saja, sih, hihi.

Aku lumayan suka dengan novel ini, lumayan memberikan warna buat bacaanku yang kebanyakan berkisahkan penjahat, detektif, dan sejenisnya. Kalau memang lagi butuh bacaan yang pesannya dalam tapi dikemasnya dengan ringan, menurutku buku ini cocok jadi pilihan pertama.

PS : Sebelum membaca novelnya ini, aku sudah lebih dulu membaca karya Mba Nadia, yang berupa kumpulan cerita berlatar sejarah, yang diterbitkan secara indi. judul bukunya Stories From The Past. Aku pinjam bukunya dari temanku, namanya Ges, yang adalah temannya Mba Nadia juga. Sewaktu membaca karyanya itu, aku berpikir Mba Nadia ini keren dan tidak ikut-ikutan arus. Belum lagi, dia harus melakukan riset untuk membuat cerita itu. Keren deh! Tapi yang ini juga tidak kalah keren, kok, membuktikan bahwa Mba Nadia piawai dalam mengemas cerita bertema lebih luas.

Dan waktu membaca novel ini, aku jadi mengingat masa kuliah di UI setahun lalu (lulus tahun 2013 =)). Memang aku tidak satu kampus dengan Mba Nadia, yang notabene sama dengan si tokoh utama cerita Soulmate On The Backstage ini. Tapi aku lumayan tahu mengenai acara-acara kreatif fakultas Mba Nadia dan selalu takjub hihi.

Semoga karya yang merupakan debut Mba Nadia bersama dengan salah satu penerbit ternama ini bisa mendulang sukses buat karir Mba Nadia sebagai penulis! =)

 

 

=)

Rating : 3/5

Advertisements

2 thoughts on “Review Post : Soulmate on The Backstage

  1. Pingback: Identitas Buku & Sinopsis ‘Soulmate on the Backstage’ | silvaranibooks

  2. Pingback: Soulmate on The Backstage (2014, Fiksi) | silvaranibooks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s