FICTION : TWO PIECES

 

25-childhood-friend-250712

Inspired by Demi Lovato’s Two Pieces

EPISODE 1 : JUST ONE

Tim mengangkat setengah lengannya dan mengarahkan pandangannya ke benda bulat penunjuk waktu di pergelangan. Sudah pukul 4 sore dan dia sama sekali tidak menemukan teman-temannya yang tadi mengajaknya bermain petak umpet. Tim mendapatkan giliran jaga pertama dan sudah berkeliling mencari teman-temannya di taman dan sekitarnya sejak sejam yang lalu, namun mereka tidak ditemukan di manapun. Tim dan lima orang temannya yang lain sudah sepakat untuk melakukan permainan ini di taman dan hanya beberapa kaki jauhnya untuk mengumpet, namun ternyata teman-temannya tidak melakukan apa yang mereka setujui. Melihat seperti ini, otak bocah berusia 7 tahun pun tahu bahwa dia sedang dikerjai oleh teman-temannya. Sial, kenapa selalu dia sih?

Sudah terlambat untuk Tim menyadari kebodohannya. Dia sama sekali tidak mempunyai teman dekat di sekolah, di lingkungan perumahan pun tidak ada yang akrab karena dia jarang main keluar. Bob dan gengnya adalah sekelompok anak yang berdasarkan suratan takdir menjadi ‘teman’ Tim di sekolah dan tinggal berdekatan dengan Tim. Mereka  tidak menyukai Tim karena Tim terlalu ‘aneh’ dan karenanya, tidak pantas menjadi teman siapapun. Namun siang ini sepulang sekolah, entah kenapa mendadak mereka mengajak pulang bersama dan bermain dulu di taman, yang sebenarnya tidak terlalu Tim kenal. Namun karena Tim tidak kepikiran kalau dia akan ditinggal seperti ini, dia ikut saja. Dan inilah hasilnya.

Bocah itu hanya menggaruk kepala sembari menghela nafas. Dia tidak tahu arah menuju pulang. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah keluar dari area taman sebelum matahari menghilang. Dia putuskan untuk berjalan, sembari berharap akan ada orang dewasa yang ia temui di jalan dan bisa mengarahkannya ke rumah.

Serumah dua rumah telah ia lewati dalam waktu lima menit berjalan, sama sekali belum terlihat tanda-tanda kemunculan orang dewasa yang bisa ia tanyakan. Tim terus mengarahkan matanya ke kir dan kanan, tidak ingin melewatkan setitikpun sudut daerah itu, terus berharap akan bala bantuan. Hingga akhirnya lima belas menit sudah kakinya melangkah dan tak ia temukan apapun, siapapun. Matahari masih tampak namun awan terlihat sudah mulai bergerak mendekati matahari, membuat suasana sekitar mulai menggelap, menambah kegelisahan Tim. Bagaimana kalau dia tidak bisa menemukan jalan pulang? Apa yang harus ia lakukan? Bocah itu sudah lelah dan ingin sekali berbaring di tempat tidur, menuju dunia tempat dia bisa bermain bebas tanpa gangguan. Semakin dia tenggelam akan pikirannya itu, semakin ia ingin sampai ke rumah dan ketidakmampuannya untuk pulang membuatnya mendekap tangannya, menahan tangis.

“Keluar kau dari rumah ini, Setan Kecil!”

Sebuah suara mengalihkan pikiran Tim. Dia menengadahkan kepalanya, mencari sumber suara yang terdengar seperti milik orang dewasa. Suara itu ternyata berasal dari satu rumah di seberang tempat ia berdiri saat ini. Perkataan itu memang bukan ditujukan untuknya, namun tubuh bocah itu spontan bereaksi, berpindah bersembunyi di balik pohon Trembesi yagn tak jauh dari tempat ia berdiri barusan. Dia menggeser badannya sedikit untuk melihat pemandangan berikutnya.

Ya, perkataan itu bukan ditujukan untuknya namun untuk seorang gadis kecil berambut pendek sebahu, dengan warna rambut seperti jus tomat. Tangan kecil gadis itu didorong oleh pria dewasa itu hingga gadis itu jatuh terpental, keluar dari pagar rumah itu. Gadis itu bangkit berdiri tanpa sedikitpun meringis ataupun menunjukkan rasa sakit. Di sebelah pria dewasa itu, terlihat seorang wanita berwarna rambut sama dengan gadis kecil itu, namun lebih panjang, menutup setengah wajahnya dengan tangan kanannya, kedua matanya mengeluarkan air mata. Sebelah tangannya menarik ujung baju pria dewasa itu, ingin menghentikan perbuatan pria itu namun tak punya keberanian yang cukup untuk melakukannya.

“Seharusnya anak ini tahu kalau dia bukan siapa-siapa di rumah ini!” teriak pria itu lagi, kea rah wanita itu. “Ajarkan dia sopan santun, Clary! Sekali lagi aku melihat dia menghabiskan makananku, aku tak akan segan menjadikannya makanan Hiro!”

Wanita itu hanya menangis sembari menganggukkan kepalanya. Tim tak bisa melihat ekspresi si gadis kecil, karena posisi gadis itu kini membelakanginya namun dari tubuhnya terlihat dia berdiri tegak, dengan kedua tangan mengepal, pertanda dia tidak takut ataupun ngeri sama sekali dengan perkataan pria itu. Tampaknya pria itu menyadari hal itu dan kesal karenanya. Kini dia melayangkan tangannya ke pipi kanan gadis itu, dengan penuh tenaga, hingga gadis itu kembali menyentuh tanah. Wanita yang bernama Clary itu kini memalingkan wajahnya, sambil terus terisak.

“Biarkan setan ini tidur di luar malam ini. Aku tak mau melihatnya.” Seru pria itu, sebelum akhirnya membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah. Clary kemudian mengangkat tubuh gadis itu untuk berdiri, dan mengusap wajah dan tubuh gadis kecil itu sambil terus menangis. Terlihat dia membisikkan sesuatu kepada gadis itu, yang dibalas dengan anggukan oleh si ‘Setan Kecil’ itu, sebelum akhirnya dia juga berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan gadis itu sendiri di luar.

Tim terperangah menyaksikan opera sabun nyata barusan. Tanpa sadar dia keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah menuju tempat gadis itu berdiri.  Gadis itu, yang semula menundukkan kepalanya, tersentak akan kehadiran Tim dan mengarahkan wajahnya ke hadapan pria kecil itu. Mereka kini saling bertatapan.

“Timotius Wayne?” gadis itu menyebutkan nama lengkapnya sebelum mereka berkenalan, membuat Tim mengerutkan keningnya .

“Kamu tahu aku?”

“Tentu saja. Kita tinggal berdekatan dan satu sekolah. Kita juga satu bus jemputan” jelas gadis itu. Tim bergeming, sedikit terkejut akan fakta yang baru ia dengar dari gadis itu. Tetap saja dia tidak menyangka dia

“Tapi aku tidak pernah melihatmu.” Balas Tim, sedikit merasa tidak enak.

Gadis itu menarik sudut bibirnya ke atas sedikit dan berkata,”Aku memang tidak terkenal makanya mungkin kamu tidak mengenalku. Kamu juara satu di semester kemarin, kan? Dan ayahmu…” namun gadis itu tidak melanjutkan perkataannya ketika Tim terlihat tercekat saat ia menyebutkannya. “Maaf…”

“Tidak apa. Semua orang sudah tahu. Bob bahkan sering mengejekku karena ayahku…” Terdengar suara Tim goyang menahan tangis, sekalipun dirinya mencoba untuk terdengar santai.

“Kalau begitu, namamu siapa?” tanya Tim, mencoba memecah keheningan.

“Aku Anna. Aku kelas 2C.”

“Tadi itu…kenapa?”

“Kamu melihatnya ya?” gadis itu mengeluarkan tawa yang bercampur ringisan. “Pedor mengamuk karena aku menghabiskan lauk makan siangnya. Aku tidak tahu, karena mamaku juga tidak bilang apa-apa. Hari ini usai pelajaran olahraga aku capai dan lapar sekali, sehingga aku makan saja semua makanan di meja makan. Aku tidak tahu Pedro belum makan.”

“Pedro itu pria yang tadi memukulmu kan?”

“Ya. Dia ayah tiriku.”

“Dia kejam sekali. Lihat pipimu, sampai membiru…” Tim menyentuh area di bawah tulang pipi Anna, bekas pukulan pria itu, menyebabkan Anna meringis sehingga membuat Tim menarik kembali tangannya.

“Maaf”

Anna menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. “Tidak apa. Oh iya, kamu sednag apa di sini? Jangan bilang kamu mengikutiku.” Guyon gadis itu.

Tim terkekeh kecil dan menggoyangkan telapak tangannya, dan menjelaskan situasinya. Anna mengernyitkan dahinya dan berujar, “Bob nakal sekali. Dia seharusnya tidak meninggalkanmu. Tapi kamu juga parah, masa tidak tahu cara pulang. Kamu kan setiap hari melewati daerah ini.”

“Aku tidak hapal jalannya, Anna. Lagian aku kan selama ini pulang dengan bus jemputan.”

“Aku juga tapi aku hafal daerah rumah ini. Aku bahkan hafal bagaiaman ke rumahmu!”

“Oh iya? Bagaimana bisa?”

Anna menjelaskan bahwa tiap pagi, bus jemputan mereka selalu menjemput Anna lebih dulu lalu kemudian menjemput Tim, sedangkan ketika pulang sekolah, bus mereka akan mengantar Tim duluan lalu Anna. Anna sangat suka memperhatikan jalanan yang dilewati oleh bus jemputan mereka, makanya dia hafal daerah yagn sering dilewati bus itu, apalagi rumah Tim yang berarti dekat dengan rumahnya Anna.

Mendengar hal itu, wajah Tim berubah menjadi berseri-seri. Akhirnya ada orang yang bisa ia minta bantuan untuk mengantarkannya ke rumahnya.

“Tapi ada syaratnya!” ujar Anna ketika Tim meminta pertolongannya. “Kamu harus mau menjadi temanku!”

Tim mengernyitkan dahi, sedikit tidak percaya dengan permintaan Anna yang menurutnya tidak lazim. Hampir seisi sekolah berlomba-lomba untuk menjauhinya dan sekarang gadis ini malah memintanya menjadi temannya sebagai ganti mengantarkan Tim kembali ke rumah?

“Selain itu, izinkan aku untuk bermain sebentar di rumahmu. Mamaku tadi menyuruhku menunggu di rumah Lisa – teman sekelasku – hingga mamaku bisa menjemputku. Tapi karena aku harus mengantarmu, kupikir sekalian saja…”

“Kamu yakin dengan permintaanmu itu? Aku tidak masalah dengan yang kedua, tapi permintaan pertama…”

Anna menepuk bahu Tim dua kali seraya berkata, “Tim, aku sudah lama ingin berteman denganmu. Lagipula, kamu kan tidak salah apa-apa. Itu kan ayahmu…” Tim bergedik sedikit mendengar kata ‘ayah’ disebutkan.

“Dan aku pikir aku butuh teman baik. Satu saja. Dan aku rasa kamu bisa.” Anna menyunggingkan senyum, senyum yang lebar sampai menunjukkan kumpulan gigi susunya.

Tim memandang gadis itu dengan perasaan campur aduk, senang, , terharu, namun sedikit ragu dan tidka percaya. Baru saja dia dikerjai oleh Bob dan teman-temannya, yang ia kira benar-benar ingin mengajak bermain namun ternyata malah menjebaknya di taman dengan permainan petak umpet. Hal ini membuatnya menjadi waspada, bisa saja Anna hanya memanfaatkan kondisinya supaya bisa mendapatkan tempat berteduh sementara karena dia diusir oleh ayah tirinya.

Diusir oleh ayah tiri, gumam Tim tanpa sadar. Gadis ini tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya, ayah tirinya. Dia dipukul oleh ayahnya barusan, berarti ayahnya membenci dia. Ibunya, walaupun sedih melihat Anna diperlakukan seperti itu, tapi tidak berbuat apa-apa dan malah mengikuti ayah tirinya itu. Hidup gadis ini tampaknya juga tidak normal. Sama seperti hidupnya.

“Baiklah. Aku akan memenuhi persyaratanmu itu. Aku juga butuh teman baik. Teman yang sepertimu.” Tim menyodorkan senyum yang tak kalah lebarnya dengan milik gadis itu.

“Ya sudah kalau begitu. Ayo kita ke rumahmu!”

Anna menarik pergelangan Tim dan berlari menarik bocah lelaki itu, sembari tertawa lepas seakan kejadian buruk yang tadi menimpanya tidak pernah terjadi. Tim mencoba mengimbangi gadis itu, mensejajarkan dirinya dan menoleh ke arah Anna. Jantungnya berdetak lebih cepat dan bibirnya, tanpa ia sadari, tersenyum, melihat wajah  gadis itu. Rambut merah pendeknya berkibar melawan arah tubuhnya, memperlihatkan figur wajah cantiknya yang riang. Bekas pukulan Pedro tak bisa menyangkal rupa Indah gadis itu.

Tim menghela nafas lega. Dia tak hanya bisa kembali ke rumah berkat gadis ini, tapi dia juga mendapatkan seorang teman baik, yang, ia harap, benar-benar akan menemaninya seterusnya. Walaupun hanya dia satu-satunya.

Ya, satu teman saja sudah cukup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s