A Boredom Killer.

25_IS_23610470_bo1982_2x1

There is always a struggle when a change occurs. A struggle to make sense of it. A struggle to fight for or over it. A struggle to reject or to accept it. A struggle to leave or join it. Thus, one or a thing should have enough strength to pass the moment.

A change happens as one or a thing is in the transition towards a new phase. A change is not always a betterment, or going towards something pleasurable. That is the normal one, I name it. Sometimes, a change diverts one or a thing from a nicety to an empty or difficult or unpleasant situation, or self.That is the deviant one. Well, I come up with the name by myself and they are not academically valid so feel free to share your opinion lol.

A change is a part of time. No, it is the effect. Aligned with the journey of the time, it goes and stays in the future. And since time cannot be pulled back,thus a change cannot be prevented.

A change is horrifying. Exhausting. Yet never ending. But one or a thing has to overcome the feeling and embrace it. That is the struggle. And there is always a struggle when a change occurs.

change-emotions_multi-directional-sign (1)

Titik Nol

deity-clipart-9czMkG5gi

 

Karena belakangan inspirasi menulis merupakan sumber daya yang langka, ada baiknya segala sesuatu yang ada di kepala dituangkan segera sebelum akhirnya menguap dan hilang tak bersisa. Belum layak jika melihat dari sisi teknis, namun sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, tulisan penuh cela ini pun dianggap pantas untuk menjadi penyegar mata dan kepala manusia.

Silahkan dinikmati!

Aku berharap ketika aku berjalan pulang, aku sembrono menyebrang lalu ditabrak mobil. Kepalaku terbentur ke aspal, berdarah sebanyak air gelas yang tumpah. Lalu pengendaranya pergi meninggalkanku sebelum akhirnya orang-orang mengerumuni tubuhku dan mencari bala bantuan. Sayangnya, bala bantuan terlambat sehingga nyawaku pun tak terselamatkan…

Oh tidak, tidak! Jangan demikian! Aku tidak mau mati dengan kotak berisi kesalahan-kesalahanku yang tak sempat kuperbaiki. Aku tidak mau mati dengan membawa sebongkah hati yang rusak. Aku tidak mau mati dengan ingatan terakhir tentang dia. Aku tidak mau mati dengan pikiran yang tak berpengharapan.

Aku ingin sekalipun bala bantuan terlambat, aku masih bisa diselamatkan. Ambulans datang membawa kru berjubah putih yang memberiku pertolongan pertama yang cukup, yang bisa membuat jantungku tetap berdetak hingga ke rumah sakit. Aku ingin tetap bernafas dan berdoa di alam bawah sadarku, dan memikirkan orang tua dan adik-adikku. Juga sahabat-sahabatku.

Namun karena aku menyadari kekuatanku, aku berharap ketika aku bangun ingatanku selama dua tahun terakhir menghilang. Aku tidak ingin mengingat segala sesuatu yang bermula di bulan Sang Kaisar dua tahun lalu. Aku tidak mau memulai semua kesalahan tidak menyenangkan ini. 

Tidak, seharusnya lebih jauh lagi. Aku tidak ingin mengingat segala sesuatu di akhir bulan Kebohongan tahun lalu. Sekalipun ada banyak ingatan emas yang harus dikorbankan. Aku ingin mengulang semuanya dari titik nol.

I hope every tomorrow will be a start of a new day

Just like every today is a story of choked and stuffed

Oh Grace, I do not know how to tell you this

A thing I know does not deserve to be burdened

I feel alone, I think I am alone

I need someone to save my soul

I am afraid of meeting my parents

I can’t stand new people

Is my end close? Oh how I hope so

 

——————————————————————————————-

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well with my soul.

  • Refrain:
    It is well with my soul,
    It is well, it is well with my soul.

 

Even so, I just want to cry and plea today

since tomorrow I need to wake up feeling brand new

Rune for The Spirits

7624_1280x800

 

~~This is just a fiction, written in the midst of eating Wafer Selamat, Indomie, and Roasted Pork while thinking how I can endure hiking but not finishing my plot and book. Hope you enjoy this. It’s rainy outside~~

 

My uncle told me death is coming for every living creatures in the world. Good and bad ones. baby and grandpa. dog and the owner. Him and me.

It comes in a hugely surprising manner for some, but sometimes for the lucky ones, can be prepared. Some face it right in the morning after waking up, or even in sleep they meet. In a crowded place, killed by a mentally blocked people, or in a quiet place because you eat a wrong fruit.

He added, for some people, death is an unpleasant, thus unwanted, thing in their life. It blocks their chances to achieve more on earth. It will hinder them from watching their upcoming anticipated favorite movies with their beloved. It will stop them watching their kids, brothers, sisters, friends grow. It will stop them grow. It will make them lose the opportunity to apologize and forgive. It will make their surroundings gloomy. It is so full of uncertainty, like, whether The Afterlife is opened for ’em or not. It is a misery thing this world has.

There are also many contrast views. The desperate living things will rejoice, since nothing could be their hope on earth. And nothing depends on them. They hold onto nothing, and nothing hold on to them. A hopeless life is so unworthy, and death is a good answer to end it. Some cherish it for they are able to stay young in the memory. Some choose it to stop their pain. Some choose it to fund their family.  Some said to cleanse this world’s sin, in Jesus way or in Osama way.

My uncle said there is more to death than what he told. He asked that I should be thinking about it every night to live a life I will never regret.

Prologue : My Name

 

my name

Once upon a time, I come in to a place where the people are as bright as the sky. They are a bunch of fine-brained with ambition to take down all creatures above the galaxy and below the earth. Majority is the born-stars, while very few are those called The Average. They spend whole day and night debating over things in this world and solving problems, even if they are just as tiny as the tip of my pink finger. They want to be noticed so badly, appraisal is what they seek and sleek is their tongue. They are a collection of aggressive, calculative, brave, human. They are beastly, but at the same time, likable. Those are the Attackers. Those are The Strategists.

The Average is a collection of people who are no longer unable to grow and do not seek for any improvement. They are bunch of guys who just live to live, going distinct time after time. They are unacceptable, that is why they are closed-off. They are the Bridge Builder, The Hammersmith, The Weapon Makers. The judgement is they can work only with hand. And to their names no one is interested.

I am trusted as one of the born-stars, deep inside I know that is true. My name is unknown. But quirky is my personality compared to the those, that they believe I am not. The judgment is I am passive. Spirit of competing is what I do not have. I am only sitting while others are running. Bad is my tongue and slow is my brain. In my own world I live. I am assigned as one of the Attacker while the judgment is my seat should be what The Average just do. I am not refusing the judgement since true are most of the contents.  But wrong is the part that I am incapable of competing.  And to defend myself in the assessment, I can think even though slow is the run. I am seeking for a growth and my soul wants to be involved in the taking-downs.

to be continued.

 

It’s… like this

I am always afraid of night

Ghosts of the past are everywhere, this heart could not pump in its normal speed

This brain goes nowhere but flies anywhere

and comes back bringing things you think you do not have

I think I can’t be friend with night

It befriends the unwanted parts of me, pushes it out

They do not kill but choke and poke, slowly

You are unable to move just by imagining

I detest night

Reality is there, and I wonder if the empty will be gain content

 

FICTION : TWO PIECES

 

25-childhood-friend-250712

Inspired by Demi Lovato’s Two Pieces

EPISODE 1 : JUST ONE

Tim mengangkat setengah lengannya dan mengarahkan pandangannya ke benda bulat penunjuk waktu di pergelangan. Sudah pukul 4 sore dan dia sama sekali tidak menemukan teman-temannya yang tadi mengajaknya bermain petak umpet. Tim mendapatkan giliran jaga pertama dan sudah berkeliling mencari teman-temannya di taman dan sekitarnya sejak sejam yang lalu, namun mereka tidak ditemukan di manapun. Tim dan lima orang temannya yang lain sudah sepakat untuk melakukan permainan ini di taman dan hanya beberapa kaki jauhnya untuk mengumpet, namun ternyata teman-temannya tidak melakukan apa yang mereka setujui. Melihat seperti ini, otak bocah berusia 7 tahun pun tahu bahwa dia sedang dikerjai oleh teman-temannya. Sial, kenapa selalu dia sih?

Sudah terlambat untuk Tim menyadari kebodohannya. Dia sama sekali tidak mempunyai teman dekat di sekolah, di lingkungan perumahan pun tidak ada yang akrab karena dia jarang main keluar. Bob dan gengnya adalah sekelompok anak yang berdasarkan suratan takdir menjadi ‘teman’ Tim di sekolah dan tinggal berdekatan dengan Tim. Mereka  tidak menyukai Tim karena Tim terlalu ‘aneh’ dan karenanya, tidak pantas menjadi teman siapapun. Namun siang ini sepulang sekolah, entah kenapa mendadak mereka mengajak pulang bersama dan bermain dulu di taman, yang sebenarnya tidak terlalu Tim kenal. Namun karena Tim tidak kepikiran kalau dia akan ditinggal seperti ini, dia ikut saja. Dan inilah hasilnya.

Bocah itu hanya menggaruk kepala sembari menghela nafas. Dia tidak tahu arah menuju pulang. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah keluar dari area taman sebelum matahari menghilang. Dia putuskan untuk berjalan, sembari berharap akan ada orang dewasa yang ia temui di jalan dan bisa mengarahkannya ke rumah.

Serumah dua rumah telah ia lewati dalam waktu lima menit berjalan, sama sekali belum terlihat tanda-tanda kemunculan orang dewasa yang bisa ia tanyakan. Tim terus mengarahkan matanya ke kir dan kanan, tidak ingin melewatkan setitikpun sudut daerah itu, terus berharap akan bala bantuan. Hingga akhirnya lima belas menit sudah kakinya melangkah dan tak ia temukan apapun, siapapun. Matahari masih tampak namun awan terlihat sudah mulai bergerak mendekati matahari, membuat suasana sekitar mulai menggelap, menambah kegelisahan Tim. Bagaimana kalau dia tidak bisa menemukan jalan pulang? Apa yang harus ia lakukan? Bocah itu sudah lelah dan ingin sekali berbaring di tempat tidur, menuju dunia tempat dia bisa bermain bebas tanpa gangguan. Semakin dia tenggelam akan pikirannya itu, semakin ia ingin sampai ke rumah dan ketidakmampuannya untuk pulang membuatnya mendekap tangannya, menahan tangis.

“Keluar kau dari rumah ini, Setan Kecil!”

Sebuah suara mengalihkan pikiran Tim. Dia menengadahkan kepalanya, mencari sumber suara yang terdengar seperti milik orang dewasa. Suara itu ternyata berasal dari satu rumah di seberang tempat ia berdiri saat ini. Perkataan itu memang bukan ditujukan untuknya, namun tubuh bocah itu spontan bereaksi, berpindah bersembunyi di balik pohon Trembesi yagn tak jauh dari tempat ia berdiri barusan. Dia menggeser badannya sedikit untuk melihat pemandangan berikutnya.

Ya, perkataan itu bukan ditujukan untuknya namun untuk seorang gadis kecil berambut pendek sebahu, dengan warna rambut seperti jus tomat. Tangan kecil gadis itu didorong oleh pria dewasa itu hingga gadis itu jatuh terpental, keluar dari pagar rumah itu. Gadis itu bangkit berdiri tanpa sedikitpun meringis ataupun menunjukkan rasa sakit. Di sebelah pria dewasa itu, terlihat seorang wanita berwarna rambut sama dengan gadis kecil itu, namun lebih panjang, menutup setengah wajahnya dengan tangan kanannya, kedua matanya mengeluarkan air mata. Sebelah tangannya menarik ujung baju pria dewasa itu, ingin menghentikan perbuatan pria itu namun tak punya keberanian yang cukup untuk melakukannya.

“Seharusnya anak ini tahu kalau dia bukan siapa-siapa di rumah ini!” teriak pria itu lagi, kea rah wanita itu. “Ajarkan dia sopan santun, Clary! Sekali lagi aku melihat dia menghabiskan makananku, aku tak akan segan menjadikannya makanan Hiro!”

Wanita itu hanya menangis sembari menganggukkan kepalanya. Tim tak bisa melihat ekspresi si gadis kecil, karena posisi gadis itu kini membelakanginya namun dari tubuhnya terlihat dia berdiri tegak, dengan kedua tangan mengepal, pertanda dia tidak takut ataupun ngeri sama sekali dengan perkataan pria itu. Tampaknya pria itu menyadari hal itu dan kesal karenanya. Kini dia melayangkan tangannya ke pipi kanan gadis itu, dengan penuh tenaga, hingga gadis itu kembali menyentuh tanah. Wanita yang bernama Clary itu kini memalingkan wajahnya, sambil terus terisak.

“Biarkan setan ini tidur di luar malam ini. Aku tak mau melihatnya.” Seru pria itu, sebelum akhirnya membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah. Clary kemudian mengangkat tubuh gadis itu untuk berdiri, dan mengusap wajah dan tubuh gadis kecil itu sambil terus menangis. Terlihat dia membisikkan sesuatu kepada gadis itu, yang dibalas dengan anggukan oleh si ‘Setan Kecil’ itu, sebelum akhirnya dia juga berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan gadis itu sendiri di luar.

Tim terperangah menyaksikan opera sabun nyata barusan. Tanpa sadar dia keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah menuju tempat gadis itu berdiri.  Gadis itu, yang semula menundukkan kepalanya, tersentak akan kehadiran Tim dan mengarahkan wajahnya ke hadapan pria kecil itu. Mereka kini saling bertatapan.

“Timotius Wayne?” gadis itu menyebutkan nama lengkapnya sebelum mereka berkenalan, membuat Tim mengerutkan keningnya .

“Kamu tahu aku?”

“Tentu saja. Kita tinggal berdekatan dan satu sekolah. Kita juga satu bus jemputan” jelas gadis itu. Tim bergeming, sedikit terkejut akan fakta yang baru ia dengar dari gadis itu. Tetap saja dia tidak menyangka dia

“Tapi aku tidak pernah melihatmu.” Balas Tim, sedikit merasa tidak enak.

Gadis itu menarik sudut bibirnya ke atas sedikit dan berkata,”Aku memang tidak terkenal makanya mungkin kamu tidak mengenalku. Kamu juara satu di semester kemarin, kan? Dan ayahmu…” namun gadis itu tidak melanjutkan perkataannya ketika Tim terlihat tercekat saat ia menyebutkannya. “Maaf…”

“Tidak apa. Semua orang sudah tahu. Bob bahkan sering mengejekku karena ayahku…” Terdengar suara Tim goyang menahan tangis, sekalipun dirinya mencoba untuk terdengar santai.

“Kalau begitu, namamu siapa?” tanya Tim, mencoba memecah keheningan.

“Aku Anna. Aku kelas 2C.”

“Tadi itu…kenapa?”

“Kamu melihatnya ya?” gadis itu mengeluarkan tawa yang bercampur ringisan. “Pedor mengamuk karena aku menghabiskan lauk makan siangnya. Aku tidak tahu, karena mamaku juga tidak bilang apa-apa. Hari ini usai pelajaran olahraga aku capai dan lapar sekali, sehingga aku makan saja semua makanan di meja makan. Aku tidak tahu Pedro belum makan.”

“Pedro itu pria yang tadi memukulmu kan?”

“Ya. Dia ayah tiriku.”

“Dia kejam sekali. Lihat pipimu, sampai membiru…” Tim menyentuh area di bawah tulang pipi Anna, bekas pukulan pria itu, menyebabkan Anna meringis sehingga membuat Tim menarik kembali tangannya.

“Maaf”

Anna menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. “Tidak apa. Oh iya, kamu sednag apa di sini? Jangan bilang kamu mengikutiku.” Guyon gadis itu.

Tim terkekeh kecil dan menggoyangkan telapak tangannya, dan menjelaskan situasinya. Anna mengernyitkan dahinya dan berujar, “Bob nakal sekali. Dia seharusnya tidak meninggalkanmu. Tapi kamu juga parah, masa tidak tahu cara pulang. Kamu kan setiap hari melewati daerah ini.”

“Aku tidak hapal jalannya, Anna. Lagian aku kan selama ini pulang dengan bus jemputan.”

“Aku juga tapi aku hafal daerah rumah ini. Aku bahkan hafal bagaiaman ke rumahmu!”

“Oh iya? Bagaimana bisa?”

Anna menjelaskan bahwa tiap pagi, bus jemputan mereka selalu menjemput Anna lebih dulu lalu kemudian menjemput Tim, sedangkan ketika pulang sekolah, bus mereka akan mengantar Tim duluan lalu Anna. Anna sangat suka memperhatikan jalanan yang dilewati oleh bus jemputan mereka, makanya dia hafal daerah yagn sering dilewati bus itu, apalagi rumah Tim yang berarti dekat dengan rumahnya Anna.

Mendengar hal itu, wajah Tim berubah menjadi berseri-seri. Akhirnya ada orang yang bisa ia minta bantuan untuk mengantarkannya ke rumahnya.

“Tapi ada syaratnya!” ujar Anna ketika Tim meminta pertolongannya. “Kamu harus mau menjadi temanku!”

Tim mengernyitkan dahi, sedikit tidak percaya dengan permintaan Anna yang menurutnya tidak lazim. Hampir seisi sekolah berlomba-lomba untuk menjauhinya dan sekarang gadis ini malah memintanya menjadi temannya sebagai ganti mengantarkan Tim kembali ke rumah?

“Selain itu, izinkan aku untuk bermain sebentar di rumahmu. Mamaku tadi menyuruhku menunggu di rumah Lisa – teman sekelasku – hingga mamaku bisa menjemputku. Tapi karena aku harus mengantarmu, kupikir sekalian saja…”

“Kamu yakin dengan permintaanmu itu? Aku tidak masalah dengan yang kedua, tapi permintaan pertama…”

Anna menepuk bahu Tim dua kali seraya berkata, “Tim, aku sudah lama ingin berteman denganmu. Lagipula, kamu kan tidak salah apa-apa. Itu kan ayahmu…” Tim bergedik sedikit mendengar kata ‘ayah’ disebutkan.

“Dan aku pikir aku butuh teman baik. Satu saja. Dan aku rasa kamu bisa.” Anna menyunggingkan senyum, senyum yang lebar sampai menunjukkan kumpulan gigi susunya.

Tim memandang gadis itu dengan perasaan campur aduk, senang, , terharu, namun sedikit ragu dan tidka percaya. Baru saja dia dikerjai oleh Bob dan teman-temannya, yang ia kira benar-benar ingin mengajak bermain namun ternyata malah menjebaknya di taman dengan permainan petak umpet. Hal ini membuatnya menjadi waspada, bisa saja Anna hanya memanfaatkan kondisinya supaya bisa mendapatkan tempat berteduh sementara karena dia diusir oleh ayah tirinya.

Diusir oleh ayah tiri, gumam Tim tanpa sadar. Gadis ini tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya, ayah tirinya. Dia dipukul oleh ayahnya barusan, berarti ayahnya membenci dia. Ibunya, walaupun sedih melihat Anna diperlakukan seperti itu, tapi tidak berbuat apa-apa dan malah mengikuti ayah tirinya itu. Hidup gadis ini tampaknya juga tidak normal. Sama seperti hidupnya.

“Baiklah. Aku akan memenuhi persyaratanmu itu. Aku juga butuh teman baik. Teman yang sepertimu.” Tim menyodorkan senyum yang tak kalah lebarnya dengan milik gadis itu.

“Ya sudah kalau begitu. Ayo kita ke rumahmu!”

Anna menarik pergelangan Tim dan berlari menarik bocah lelaki itu, sembari tertawa lepas seakan kejadian buruk yang tadi menimpanya tidak pernah terjadi. Tim mencoba mengimbangi gadis itu, mensejajarkan dirinya dan menoleh ke arah Anna. Jantungnya berdetak lebih cepat dan bibirnya, tanpa ia sadari, tersenyum, melihat wajah  gadis itu. Rambut merah pendeknya berkibar melawan arah tubuhnya, memperlihatkan figur wajah cantiknya yang riang. Bekas pukulan Pedro tak bisa menyangkal rupa Indah gadis itu.

Tim menghela nafas lega. Dia tak hanya bisa kembali ke rumah berkat gadis ini, tapi dia juga mendapatkan seorang teman baik, yang, ia harap, benar-benar akan menemaninya seterusnya. Walaupun hanya dia satu-satunya.

Ya, satu teman saja sudah cukup.