Review Post : Lalita

lalitaLalita
Judul : Lalita  (Seri Bilangan Fu, #2)
Penulis : Ayu Utami
Publisher : Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman : 256 
Tahun terbit : 2012
Bahasa : Indonesia
Genre(s) : Romansa, kontemporer, sedikit sejarah
Tempat pembelian : Gramedia Hotel Santika Medan 
Sinopsis dan Gambar Sampul : Goodreads
Sinopsis :
Lalita menerima sejilid kertas tua berisi bagan-bagan mandala, dan sejak itu setiap hari pengetahuannya tentang sang kakek bertambah. Setiap kali pengetahuan itu bertambah banyak, setiap kali pula sang kakek bertambah muda dalam penglihatannya. Pada suatu titik ia bisa sepenuhnya melihat seorang remaja berumur tiga belas tahun, yang berdiri lurus kaku dan kepala sedikit miring seolah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.Apa hubungan semua itu dengan Candi Borobudur? itu akan menjadi petualangan Yuda, Marja, dan Parang Jati

***
Ini pertama kalinya aku membaca karya Ayu Utami, namun bukan berarti aku belum pernah mendengar tentangnya. Sebelum aku membaca Lalita, aku terlebih dahulu mengetahui Saman. Waktu itu, aku masih kelas 2 SMP. Seorang teman membawanya ke sekolah untuk tugas membaca dan meresensi novel, walau akhirnya tidak jadi karena ceritanya sulit dipahami. Tapi waktu itu, temanku itu pernah menunjukkan satu bagian dari buku tersebut yang mengutip salah satu kitab Salomo, yaitu Kidung Agung pasal 7:8 yang berbunyi, “Kataku: “Aku ingin memanjat pohon karma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel””. Jujur, bukan main kagetnya membaca bagian seperti itu, dan ternyata itu dari Alkitab pula (waktu itu, aku belum paham kalau untuk memahami kitab tersebut, seseorang harus memahami konteks pasal tersebut). Maklumlah, waktu itu saya masih baru mengenal yang namanya baca novel, dan bacaan pertama juga yang genre-nya teenlit. Dan semenjak itu, saya tidak berani membaca karya Ayu Utami. Pertama, kesan pertama membaca sekilas novel Saman itu membuat saya berpikir kalau novel karya Ayu Utami ini ada adegan ‘gitu-gituan’ dan saya merasa belum siap waktu itu. Kedua, entah kenapa waktu itu saya tertariknya sama novel-novel bertema kriminal dan atau bertokoh utama detektif, selain teenlit (;p) seperti karangan Agatha Christie, Arthur Conan Doyle, Mary Higgins Clark, dll.
Jadilah, karya Ayu Utami tak sempat tersentuh…
…sampai beberapa minggu lalu! Ya, tepat tanggal 5 Januari 2014, aku membeli salah satu novel dari seri Bilangan Fu karangan salah satu penulis Indonesia terkenal ini. Didorong oleh kebutuhan karena mengikuti New Author Reading Challenge plus rasa penasaran karena mendengar komentar teman yang positif menjadi alasanku mencoba membaca karya Ayu Utami ini. Inginnya sih, seri pertama Bilangan Fu yaitu Manjali dan Cakrabirawa, tapi waktu itu adanya seri kedua ini. Agak ragu tapi setelah aku cari tahu, cerita kedua ini bukanlah sambungan total cerita pertama sekalipun tokoh-tokohnya sama sehingga saya pun akhirnya tetap membeli. Ada kekhawatiran akan merasa kecewa (tadi ragu, terus malah khawatir haha), tapi ya sudahlah, aku pikir tidak ada salahnya mencoba. Kalau memang tidak sesuai harapan, bukan pertama kalinya kan…
Dan ketakutanku tidak terjadi! Ketika saya membaca bagian awal, yaitu Hitam, yang dimulai dengan prolog, aku langsung merasa cocok dengan gaya penulisan Ayu Utami. Kalau aku bilang, gaya penulisan penulis satu ini tuh crunchy! Kalau diibaratkan seperti makan kerupuk yang renyah. Bahasanya rapi dan mudah dicerna. Belum lagi, Ayu Utami cukup rinci menjabarkan deskripsi tempat, waktu, dan sosok tokoh-tokohnya, apalagi Lalita (ya iyalah, ini kan cerita tentang dia). Bisa dibilang, sembari membaca isinya, aku sekaligus mempelajari gaya penulisan Ayu Utami. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk karyaku (tentunya tidak menjiplak).Dari segi isi sendiri juga sangat memukau saya. Aku cerita sedikit ya (tenang, tidak akan spoiler ^.^). Bermula dari pertemuan Yuda, seorang mahasiswa yang hobi panjat tebing dengan seorang wanita berusia sekitar 40tahunan pemilik galeri seni bernama Lalita, yang berdandan mewah dengan dominan warna ungu, yang membuat Yuda menjulukinya Perempuan Indigo.

“Wanita berlonceng yang berdandan mencolok dalam tanktop ungu ketat, sepatu biru gelap, lensa kontak nila, sepuhan mata warna bulu merak, menghisap rokok
ramping ungu. “
“Indigo adalah nama lain bagi biru yang mendekati ungu.”
“Kau tak mengatakan secara langsung pada seorang perempuan bahwa ia adalah perempuan ini atau perempuan itu. Apalagi perempuan dengan warna tertentu..Perempuan yang berdandan menor pastilah ingin dipuji cantik. Bukan dikomentari warnanya.”

Mereka bertemu untuk urusan pekerjaan, yang dimediasi oleh teman Yuda yang adalah pacar wanita itu, yaitu Oscar. Di awal, Lalita tidak terlalu memperhatikan Yuda. Yuda sendiri, sekalipun terkesima dengan keunikan wanita berumur ini, malah asyik dengan pikirannya sendiri, yang salah satunya mengenai sahabatnya, Parang Jati, yang marah padanya dan dengan sengaja mengajak kekasih Yuda, Marja, berlibur. Hingga akhirnya di acara yang dihadiri oleh mereka bertiga, Yuda menyelamatkan Lalita dari tindakan jahat seseorang yang cemburu pada wanita itu dan hubungan mereka pun menjadi lebih ‘akrab’. Lalita mengajak Yuda ke rumahnya dan menunjukkan padanya pengalaman dan pengetahuan baru (tentang seni, axis mundi, dan seks x] ) sekaligus rahasia-rahasia, yang sulit dipercaya, yang tersimpan dalam buku Indigo milik Lalita.

“Tapi Yuda tak bisa melupakan apa yang ia sebut sebagai “sensasi tutup sampanye’. Perempuan itu menyebutnya “axis mundi”. Bisakah ia mencapainya dengan Marja?”

Tapi tidak sampai di situ. Ternyata ada harga yang harus dibayar dari keterlibatannya dalam hidup Lalita. Tidak akan jadi masalah mungkin kalau saja Marja tidak dilibatkan…
Ya, selanjutnya silakan baca sendiri! Hehe.
Selain dari ceritanya, hal-hal lain dari segi isi yang aku suka adalah ilustrasi – ilustrasi yang menjelaskan beberapa komponen dalam cerita ini, sehingga pembaca tidak  kesulitan untuk membayangkannya. Belum lagi, di novel ini Ayu Utami menggabungkan sedikit kisah nyata ilmuwan kejiwaan dengan kisah salah satu tokoh di novel ini, sehingga aku bisa belajar sedikit mengenai masa lalu orang-orang seperti Carl Jung dan Sigmund Freud. Jujur saja, aku selalu kagum dengan novelis yang memasukkan tokoh-tokoh dunia nyata beserta kejadian yang mereka alami ke dalam dunia ciptaannya. Plus, aku pribadi seakan belajar tentang Candi Borobudur tapi dengan tidak ribet. Jadi nambah wawasan dan kesadaran untuk menghargai Borobudur. Oh ya, satu hal lagi yang bikin aku takjub, Ayu Utami bisa sekali menggambarkan adegan
bercinta (ehem, tahu kan maksudnya? hehe) jadi lebih…filosofis? Bingung juga menjelaskannya. Yah, itulah yang kesan yang aku dapatkan. Jadi makin kagum sama Ayu Utami.

Karakterisasinya sendiri cukup realistis, menurutku. Tidak ada tokoh yang sempurna baik , tapi tidak ada yang sempurna jahat juga sehingga cukup realistis. Mungkin yang bisa dibilang lumayan bermoral itu Parang Jati, tapi entah kenapa aku tidak tertarik. Hmm, sebenarnya aku sendiri tidak punya tokoh favorit di novel ini, entah kenapa. Dan ini pertama kalinya dalam sejarah tidak ada tokoh pria yang memukau diriku haha. Alhasil, aku benar-benar fokus sama penyelesaian masalah utama di novel ini dan berposisi netral terhadap kisah cinta para tokoh.
Setelah membaca novel ini, aku jadi penasaran sama novel-novel Ayu Utami yang lain. Mungkin setelah ini, aku akan mencari Bilangan Fu dan seri Bilangan Fu yang pertama, yaitu Manjali dan Cakrabirawa sehingga aku bisa lebih memahami kisah awal Yuda, Parang Jati, dan Marja. Sudah mencari di beberapa toko buku tapi belum ketemu hiks. Semoga bisa segera mendapatkan.
Kalau membaca review ini, pasti uda bisa ditebak kalau aku merekomendasikan kalian semua untuk membaca novel ini. Menambah wawasan dan menghibur.
Dan akhirnya, Ayu Utami jadi novelis favoritku. =)

“Kau tak akan pernah melihat wajahnya tanpa riasan. Selama ia masih hidup. Jika kau melihat itu, maka berarti ia mati. Ia sedang mati pada momen-momen itu.”

Rating : 4/5

Book Review : Partials

partials

partials

Partials
Title : Partials  (Partials Sequence, #1)
Author : Dan Wells
Publisher : Balzer + Bray
Pages : 468 Pages
Year of Publication : 2012
Language : English
Genre(s) : Young Adult, Science-Fiction, Dystopian, Post-Apocalyptic
Bought from : Kinokuniya Indonesia (Plaza Senayan)
Synopsis and Cover Pic : Goodreads
Synopsis :
The human race is all but extinct after a war with Partials—engineered organic beings identical to humans—has decimated the population. Reduced to only tens of thousands by RM, a weaponized virus to which only a fraction of humanity is immune, the survivors in North America have huddled together on Long Island while the Partials have mysteriously retreated. The threat of the Partials is still imminent, but, worse, no baby has been born immune to RM in more than a decade. Our time is running out.Kira, a sixteen-year-old medic-in-training, is on the front lines of this battle, seeing RM ravage the community while mandatory pregnancy laws have pushed what’s left of humanity to the brink of civil war, and she’s not content to stand by and watch. But as she makes a desperate decision to save the last of her race, she will find that the survival of humans and Partials alike rests in her attempts to uncover the connections between them—connections that humanity has forgotten, or perhaps never even knew were there.
***
This book caught my attention among any others in bookstore when I read the synopsis. With female as a main character, set in a dystopian society and time so far longer than present, and involving science, no wonder this book attracted me who loves reading mostly those kinds.But as I read every pages, turned to every chapter, I got bored. I couldn’t connect with the characters, not one of em, even Kira, the main one. I think it’s just that Wells’s writing style couldn’t hook me. In my opinion, if he’d targeted this novel to young girls, he should have, like, been more dramatic but not cheesy. I mostly can easily connect with female lead characters in books I read, even Twilight’s Bella LoL. Well, this is my personal preference perhaps.  Beside, I couldn’t be convinced why those characters did what they did. I know human race is in danger if we go extinct, but I just dont get it. Even the quite surprising ending, which actually can be expected by reading the jargon written in the cover, could not impress me and hook me to read the sequel, Fragments. Perhaps, Wells’s just doesn’t suit me? But despite all those things, I agree with the implicit idea I got from this book, that too much control over men brings no good; it only shows a fear one feels to lose his position. Men has a right to choose.
Rating : 3/5