FICTION : TWO PIECES

 

25-childhood-friend-250712

Inspired by Demi Lovato’s Two Pieces

EPISODE 1 : JUST ONE

Tim mengangkat setengah lengannya dan mengarahkan pandangannya ke benda bulat penunjuk waktu di pergelangan. Sudah pukul 4 sore dan dia sama sekali tidak menemukan teman-temannya yang tadi mengajaknya bermain petak umpet. Tim mendapatkan giliran jaga pertama dan sudah berkeliling mencari teman-temannya di taman dan sekitarnya sejak sejam yang lalu, namun mereka tidak ditemukan di manapun. Tim dan lima orang temannya yang lain sudah sepakat untuk melakukan permainan ini di taman dan hanya beberapa kaki jauhnya untuk mengumpet, namun ternyata teman-temannya tidak melakukan apa yang mereka setujui. Melihat seperti ini, otak bocah berusia 7 tahun pun tahu bahwa dia sedang dikerjai oleh teman-temannya. Sial, kenapa selalu dia sih?

Sudah terlambat untuk Tim menyadari kebodohannya. Dia sama sekali tidak mempunyai teman dekat di sekolah, di lingkungan perumahan pun tidak ada yang akrab karena dia jarang main keluar. Bob dan gengnya adalah sekelompok anak yang berdasarkan suratan takdir menjadi ‘teman’ Tim di sekolah dan tinggal berdekatan dengan Tim. Mereka  tidak menyukai Tim karena Tim terlalu ‘aneh’ dan karenanya, tidak pantas menjadi teman siapapun. Namun siang ini sepulang sekolah, entah kenapa mendadak mereka mengajak pulang bersama dan bermain dulu di taman, yang sebenarnya tidak terlalu Tim kenal. Namun karena Tim tidak kepikiran kalau dia akan ditinggal seperti ini, dia ikut saja. Dan inilah hasilnya.

Bocah itu hanya menggaruk kepala sembari menghela nafas. Dia tidak tahu arah menuju pulang. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah keluar dari area taman sebelum matahari menghilang. Dia putuskan untuk berjalan, sembari berharap akan ada orang dewasa yang ia temui di jalan dan bisa mengarahkannya ke rumah.

Serumah dua rumah telah ia lewati dalam waktu lima menit berjalan, sama sekali belum terlihat tanda-tanda kemunculan orang dewasa yang bisa ia tanyakan. Tim terus mengarahkan matanya ke kir dan kanan, tidak ingin melewatkan setitikpun sudut daerah itu, terus berharap akan bala bantuan. Hingga akhirnya lima belas menit sudah kakinya melangkah dan tak ia temukan apapun, siapapun. Matahari masih tampak namun awan terlihat sudah mulai bergerak mendekati matahari, membuat suasana sekitar mulai menggelap, menambah kegelisahan Tim. Bagaimana kalau dia tidak bisa menemukan jalan pulang? Apa yang harus ia lakukan? Bocah itu sudah lelah dan ingin sekali berbaring di tempat tidur, menuju dunia tempat dia bisa bermain bebas tanpa gangguan. Semakin dia tenggelam akan pikirannya itu, semakin ia ingin sampai ke rumah dan ketidakmampuannya untuk pulang membuatnya mendekap tangannya, menahan tangis.

“Keluar kau dari rumah ini, Setan Kecil!”

Sebuah suara mengalihkan pikiran Tim. Dia menengadahkan kepalanya, mencari sumber suara yang terdengar seperti milik orang dewasa. Suara itu ternyata berasal dari satu rumah di seberang tempat ia berdiri saat ini. Perkataan itu memang bukan ditujukan untuknya, namun tubuh bocah itu spontan bereaksi, berpindah bersembunyi di balik pohon Trembesi yagn tak jauh dari tempat ia berdiri barusan. Dia menggeser badannya sedikit untuk melihat pemandangan berikutnya.

Ya, perkataan itu bukan ditujukan untuknya namun untuk seorang gadis kecil berambut pendek sebahu, dengan warna rambut seperti jus tomat. Tangan kecil gadis itu didorong oleh pria dewasa itu hingga gadis itu jatuh terpental, keluar dari pagar rumah itu. Gadis itu bangkit berdiri tanpa sedikitpun meringis ataupun menunjukkan rasa sakit. Di sebelah pria dewasa itu, terlihat seorang wanita berwarna rambut sama dengan gadis kecil itu, namun lebih panjang, menutup setengah wajahnya dengan tangan kanannya, kedua matanya mengeluarkan air mata. Sebelah tangannya menarik ujung baju pria dewasa itu, ingin menghentikan perbuatan pria itu namun tak punya keberanian yang cukup untuk melakukannya.

“Seharusnya anak ini tahu kalau dia bukan siapa-siapa di rumah ini!” teriak pria itu lagi, kea rah wanita itu. “Ajarkan dia sopan santun, Clary! Sekali lagi aku melihat dia menghabiskan makananku, aku tak akan segan menjadikannya makanan Hiro!”

Wanita itu hanya menangis sembari menganggukkan kepalanya. Tim tak bisa melihat ekspresi si gadis kecil, karena posisi gadis itu kini membelakanginya namun dari tubuhnya terlihat dia berdiri tegak, dengan kedua tangan mengepal, pertanda dia tidak takut ataupun ngeri sama sekali dengan perkataan pria itu. Tampaknya pria itu menyadari hal itu dan kesal karenanya. Kini dia melayangkan tangannya ke pipi kanan gadis itu, dengan penuh tenaga, hingga gadis itu kembali menyentuh tanah. Wanita yang bernama Clary itu kini memalingkan wajahnya, sambil terus terisak.

“Biarkan setan ini tidur di luar malam ini. Aku tak mau melihatnya.” Seru pria itu, sebelum akhirnya membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah. Clary kemudian mengangkat tubuh gadis itu untuk berdiri, dan mengusap wajah dan tubuh gadis kecil itu sambil terus menangis. Terlihat dia membisikkan sesuatu kepada gadis itu, yang dibalas dengan anggukan oleh si ‘Setan Kecil’ itu, sebelum akhirnya dia juga berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan gadis itu sendiri di luar.

Tim terperangah menyaksikan opera sabun nyata barusan. Tanpa sadar dia keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah menuju tempat gadis itu berdiri.  Gadis itu, yang semula menundukkan kepalanya, tersentak akan kehadiran Tim dan mengarahkan wajahnya ke hadapan pria kecil itu. Mereka kini saling bertatapan.

“Timotius Wayne?” gadis itu menyebutkan nama lengkapnya sebelum mereka berkenalan, membuat Tim mengerutkan keningnya .

“Kamu tahu aku?”

“Tentu saja. Kita tinggal berdekatan dan satu sekolah. Kita juga satu bus jemputan” jelas gadis itu. Tim bergeming, sedikit terkejut akan fakta yang baru ia dengar dari gadis itu. Tetap saja dia tidak menyangka dia

“Tapi aku tidak pernah melihatmu.” Balas Tim, sedikit merasa tidak enak.

Gadis itu menarik sudut bibirnya ke atas sedikit dan berkata,”Aku memang tidak terkenal makanya mungkin kamu tidak mengenalku. Kamu juara satu di semester kemarin, kan? Dan ayahmu…” namun gadis itu tidak melanjutkan perkataannya ketika Tim terlihat tercekat saat ia menyebutkannya. “Maaf…”

“Tidak apa. Semua orang sudah tahu. Bob bahkan sering mengejekku karena ayahku…” Terdengar suara Tim goyang menahan tangis, sekalipun dirinya mencoba untuk terdengar santai.

“Kalau begitu, namamu siapa?” tanya Tim, mencoba memecah keheningan.

“Aku Anna. Aku kelas 2C.”

“Tadi itu…kenapa?”

“Kamu melihatnya ya?” gadis itu mengeluarkan tawa yang bercampur ringisan. “Pedor mengamuk karena aku menghabiskan lauk makan siangnya. Aku tidak tahu, karena mamaku juga tidak bilang apa-apa. Hari ini usai pelajaran olahraga aku capai dan lapar sekali, sehingga aku makan saja semua makanan di meja makan. Aku tidak tahu Pedro belum makan.”

“Pedro itu pria yang tadi memukulmu kan?”

“Ya. Dia ayah tiriku.”

“Dia kejam sekali. Lihat pipimu, sampai membiru…” Tim menyentuh area di bawah tulang pipi Anna, bekas pukulan pria itu, menyebabkan Anna meringis sehingga membuat Tim menarik kembali tangannya.

“Maaf”

Anna menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. “Tidak apa. Oh iya, kamu sednag apa di sini? Jangan bilang kamu mengikutiku.” Guyon gadis itu.

Tim terkekeh kecil dan menggoyangkan telapak tangannya, dan menjelaskan situasinya. Anna mengernyitkan dahinya dan berujar, “Bob nakal sekali. Dia seharusnya tidak meninggalkanmu. Tapi kamu juga parah, masa tidak tahu cara pulang. Kamu kan setiap hari melewati daerah ini.”

“Aku tidak hapal jalannya, Anna. Lagian aku kan selama ini pulang dengan bus jemputan.”

“Aku juga tapi aku hafal daerah rumah ini. Aku bahkan hafal bagaiaman ke rumahmu!”

“Oh iya? Bagaimana bisa?”

Anna menjelaskan bahwa tiap pagi, bus jemputan mereka selalu menjemput Anna lebih dulu lalu kemudian menjemput Tim, sedangkan ketika pulang sekolah, bus mereka akan mengantar Tim duluan lalu Anna. Anna sangat suka memperhatikan jalanan yang dilewati oleh bus jemputan mereka, makanya dia hafal daerah yagn sering dilewati bus itu, apalagi rumah Tim yang berarti dekat dengan rumahnya Anna.

Mendengar hal itu, wajah Tim berubah menjadi berseri-seri. Akhirnya ada orang yang bisa ia minta bantuan untuk mengantarkannya ke rumahnya.

“Tapi ada syaratnya!” ujar Anna ketika Tim meminta pertolongannya. “Kamu harus mau menjadi temanku!”

Tim mengernyitkan dahi, sedikit tidak percaya dengan permintaan Anna yang menurutnya tidak lazim. Hampir seisi sekolah berlomba-lomba untuk menjauhinya dan sekarang gadis ini malah memintanya menjadi temannya sebagai ganti mengantarkan Tim kembali ke rumah?

“Selain itu, izinkan aku untuk bermain sebentar di rumahmu. Mamaku tadi menyuruhku menunggu di rumah Lisa – teman sekelasku – hingga mamaku bisa menjemputku. Tapi karena aku harus mengantarmu, kupikir sekalian saja…”

“Kamu yakin dengan permintaanmu itu? Aku tidak masalah dengan yang kedua, tapi permintaan pertama…”

Anna menepuk bahu Tim dua kali seraya berkata, “Tim, aku sudah lama ingin berteman denganmu. Lagipula, kamu kan tidak salah apa-apa. Itu kan ayahmu…” Tim bergedik sedikit mendengar kata ‘ayah’ disebutkan.

“Dan aku pikir aku butuh teman baik. Satu saja. Dan aku rasa kamu bisa.” Anna menyunggingkan senyum, senyum yang lebar sampai menunjukkan kumpulan gigi susunya.

Tim memandang gadis itu dengan perasaan campur aduk, senang, , terharu, namun sedikit ragu dan tidka percaya. Baru saja dia dikerjai oleh Bob dan teman-temannya, yang ia kira benar-benar ingin mengajak bermain namun ternyata malah menjebaknya di taman dengan permainan petak umpet. Hal ini membuatnya menjadi waspada, bisa saja Anna hanya memanfaatkan kondisinya supaya bisa mendapatkan tempat berteduh sementara karena dia diusir oleh ayah tirinya.

Diusir oleh ayah tiri, gumam Tim tanpa sadar. Gadis ini tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya, ayah tirinya. Dia dipukul oleh ayahnya barusan, berarti ayahnya membenci dia. Ibunya, walaupun sedih melihat Anna diperlakukan seperti itu, tapi tidak berbuat apa-apa dan malah mengikuti ayah tirinya itu. Hidup gadis ini tampaknya juga tidak normal. Sama seperti hidupnya.

“Baiklah. Aku akan memenuhi persyaratanmu itu. Aku juga butuh teman baik. Teman yang sepertimu.” Tim menyodorkan senyum yang tak kalah lebarnya dengan milik gadis itu.

“Ya sudah kalau begitu. Ayo kita ke rumahmu!”

Anna menarik pergelangan Tim dan berlari menarik bocah lelaki itu, sembari tertawa lepas seakan kejadian buruk yang tadi menimpanya tidak pernah terjadi. Tim mencoba mengimbangi gadis itu, mensejajarkan dirinya dan menoleh ke arah Anna. Jantungnya berdetak lebih cepat dan bibirnya, tanpa ia sadari, tersenyum, melihat wajah  gadis itu. Rambut merah pendeknya berkibar melawan arah tubuhnya, memperlihatkan figur wajah cantiknya yang riang. Bekas pukulan Pedro tak bisa menyangkal rupa Indah gadis itu.

Tim menghela nafas lega. Dia tak hanya bisa kembali ke rumah berkat gadis ini, tapi dia juga mendapatkan seorang teman baik, yang, ia harap, benar-benar akan menemaninya seterusnya. Walaupun hanya dia satu-satunya.

Ya, satu teman saja sudah cukup.

Advertisements

Review Post: The Fault in Our Stars

The Fault in Our Stars

The Fault in Our Stars
Title : The Fault in Our Stars
Author : John Green
Publisher : Dutton Books
Pages : 318 Pages
Year of Publication : 2012
Language : English
Genre(s) : Young Adult,Romance, 
Bought from : – ( I got the free e-book ^.^)
Synopsis and Cover Pic : Goodreads
Synopsis :
Despite the tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few years, Hazel has never been anything but terminal, her final chapter inscribed upon diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly appears at Cancer Kid Support Group, Hazel’s story is about to be completely rewritten.
 

 

***
It’s been a long time since my last review!!It took me long, really long just to finish one book. I made myself read more than 2 books, either fiction or nonfiction, at the same time so that I could go after my reading target this year and also reading target in some challenges I’ve been joining. It was not as easy as deciding which books to buy first, given some pocket money I was received. The time is enough, I think, but the one who uses it did not use it well. I always postponed my plan to continue reading and yeah, no wonder I haven’t finished , like, four books since March. =(And this is it, out of 6 I finally finished two and The Fault in Our Stars is one of the two. I have been really curious with this novel ever since I read the review about this book as well as John Green’s name as the author of this story. I have been interested in his other masterpiece after reading Paper Town so I thought I would like to give this book a try.

“But in fact, depression is not a side effect of cancer. Depression is a side effect of dying.”

First, before I jumped to conclusion, let me share a glance of the story to you. Situations happened in this novel was seen and told through the eye of Hazel Grace,a 16-year-old girl who has a thyroid cancer in her lung. She was unpleasantly and skeptically living her life, befriending but her parents and reading books and novels, repeating her favorite novels, An Imperial Affliction by Peter Van Houten, whom she considered her third friend. Her mother couldn’t bear seeing her like this made her join a Support Group, a group consist of some kids and teens with cancer that met up every week and share their (cancer) fighting story to each others. Hazel did not think this was her thing but she didn’t want to make her mom more difficult so she came every week, without sharing a single story but a single sentence ‘I had a thyroid cancer’ kinda. The only person she could connect with there was Isaac, a 17-year-old boy with an eye cancer. There’s not much talking between them (yet) but their eyes usually met whenever they thought something was too much. And things changed in Hazel’s life, too, because of Isaac (in my opinion lol); once, he brought his friend, Augustus Waters, to the Support Group. He had an appendiceal cancer, making him lose one of his legs, thus, making him wear a prost. From the description Hazel poured, Augustus was really hot. He was so attractive with his crooked smile and muscular body. That’s why Hazel was fascinated, and became more fascinated when he showed much interest in her.

“Sometimes, you read a book and it fills you with this weird evangelical zeal, and you become convinced that the shattered world will never be put back together unless and until all living humans read the book.”

Augustus, or Gus, said she’s so cool, looking like Natalie Portman in V for Vendetta, repeating it like more than twice. Gus so bluntly said that he liked her and wanted to go steady with her. Any girls and women will be like melting as well as feeling confused at the same time, encountering a boy like this. And since then, they became close. Hazel shared her favorite book to him, An Imperial Affliction while Gus told her to read The Prince of Dawn series, asked her to come to his place to play the game version also, with Isaac. Hazel also told him how she really wanted to know the ending of AIA which was left unfinished, how many times she sent letters to Van Houten without ever being replied even once. Gus, who happened to be interested in that book upon reading it, sent an e-mail to Van Houten and got replied. Despite her jealousy, it encouraged Hazel to send Van Houten an e-mail, asking about the ending of the novel. And finally, she got his reply! But unfortunately, the e-mail said that he couldn’t tell her the ending unless they met each other directly, meaning Hazel should go to Amsterdam.

“I’m in love with you, and I’m not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I’m in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we’ll ever have, and I am in love with you.”

But things got rough all of sudden. Hazel, who was always thoughtful about how her parents and Gus would keep up living once she’s gone, got recurrence and forced her to attend the hospital. But after this, things got sweeter. After she’s back home, she developed more intimate relationship with Gus and told him that the only way she could find out about the ending of AIA was by going to Amsterdam and meeting Van Houten. In short, with a funding support from an organization concerning themselves in kids and teens with cancer, they’re able to go to Amsterdam and meet Van Houten. Sadly, he wasn’t as cool as what Hazel had extracted from his novel. She couldn’t get to know the ending she was dying to, but she really did not want to pass the chance to be with Gus so she decided to forget about Van Houten and the ending-she-was-damn-curious-about, and had fun with Gus in Amsterdam, including making love hehehihi. The nice thing doesn’t last forever, fella. I really didn’t figure it out before. Yes, it’s soooo improbably unpredictable.

“Oh, I wouldn’t mind, Hazel Grace. It would be a privilege to have my heart broken by you.”

But I will not tell you! Please, read it yourself =3 Though unpredictable, it did not surprise me. Perhaps because this is about cancer so, yeah, there is not much those unexpected things. And I really wished I would have cried so many tears reading this but in fact I didn’t. I don’t know if it’s because I read this in a very distant time that sometimes I forgot how the story had gone, or because I really could not feel the sadness Hazel felt, or it’s just the story that wasn’t really that sad at all. But I did feel touched when it came to Hazel’s parents. Well, you should read it yourself hehe. By the way, most of the narration and dialogue are quotable. They were so beautifully chained to each other =). Anyway, the main character, Hazel Grace, was just so mature for her age. There was no scene that she didn’t talk like a philosopher, a skeptic philosopher for exact. And I think she’s what differed TFIOS with other YA novels whose main character has a cancer; while most of typical stories offer an optimistic character with a great struggle, Hazel’s just so skeptic and perceivably effortless to live her life. She tended to ask ‘why’ to almost everything in her life, but she never questioned why she should be having the cancer. And Augustus, well, I don’t know what to say about him. Compared to Hazel, Gus was more optimistic and willing to leave his trace on others, though he knew he might hurt or even get hurt. He wanted to live his life being useful to other people, showing much love to them, especially Hazel. He was just so damn blunt! I wonder if there is a man or woman able to be so honest about his/her feeling towards the one he/she loves. How he was willing to sacrifice so much for Hazel was just so adorable.

“Do the thing you’re good at. Not many people are lucky enough to be so good at something.”

For teenagers, I think they should read this, especially the teen girls. Hazel is a character that they could learn from; such a skeptic yet brave and loving girl, and instead of crying over her ‘untied’ relationship with Gus, she could cope with her life and found things she could hold onto, things that could help her remember Gus. Even the love story offered is not the cheesy type. I myself learn to be honest with my feeling to people I love, though it may not be so good for me. And that everything has a risk, even in loving itself. But the return of it is great also, so don’t be afraid to love and just take whatever the risk might be. And parents are everything. Hehe.

“You don’t get to choose if you get hurt in this world, old man, but you do have some say in who hurts you. I like my choices. I hope she likes hers.”  

Rating : 4/5

Review Post : Soulmate on The Backstage

Soulmate on The Backstage

Soulmate on The Backstage

 Judul : Soulmate on The Backstage

 Penulis : Nadia Silvarani
 Penerbit : Grasindo
 Jumlah Halaman :  210
 Tahun Publikasi : 2014 
 Bahasa : Indonesia
 Genre : Romansa
 Tempat pembelian :sewaktu peluncuran novel Soulmate on The Backstage

 Sinopsis dan Gambar Sampul : Goodreads

Sinopsis :

“The best actress jatuh kepada Amelia Larasati dari Sastra Pranciiiiis!”

Suasana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Negeri Indonesia malam ini begitu meriah. Laras, mahasiswi Sastra Prancis berwajah jutek itu, akhirnya menyabet penghargaan. Ia memang pemain teater berbakat.

Di atas penggung teater, Laras yang biasanya pendiam, kurang …berekspresi dan bahkan jutek, bisa berubah 180 derajat. Laras sanggup tertawa, marah, atau sedih dengan begitu sungguh-sungguh.

Namun, saat sang pelatih memintanya memerankan Adeline, seorang permaisuri kerajaan Eropa yang sedang jatuh cinta, Laras pun seolah menjadi anak teater kemarin sore. Aktingnya sangat kaku. Laras tak tahu apa itu jatuh cinta. Sudah sejak lama ia memutuskan tak terlibat perasaan lemah seperti itu. Perasaan itu hanya akan mengingatkannya pada seseorang yang tersimpan begitu dalam di lubuk hatinya, namun jauh dari pandangan matanya. Laras ingin menolak memerankan Adeline, tapi… itu berarti ia akan kehilangan mimpinya pergi ke Paris. Lalu, apa yang harus dilakukan Laras?

Apakah ia menerima peran Adeline dengan konsekuensi hatinya terluka? Atau ia rela melepas impiannya ke Paris?

***

Ameliananda Arlarasa Anindya Pramuswari Kirana Putri Abitama Aridipta… fuh! Bahkan untuk menuliskan nama ini pun sudah capek, apalagi mengucapkannya. Tapi itulah yang menjadi salah satu keunikan dari gadis muda yang akrab dipanggil Laras. Gadis ini punya hobi menarik yang telah ia tekuni semenjak ia berkuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Indonesia mengambil jurusan Sastra Prancis, yaitu berakting di atas pentas teater. Ditambah lagi, dia berambisi untuk pergi ke Paris, makanya dia mengambil Sastra Prancis untuk dia tekuni lebih dalam. Dua hal ini sangat berarti bagi Laras di tengah kehidupannya yang tidak ‘secerah’ teman-temannya. Baginya, teater dan Prancis adalah jembatan untuk mempertemukannya dengan sang ‘teman khayalan’…Ya, Laras punya teman khayalan! Siapakah teman khayalannya itu? Mungkin kita bahas hal lain dulu sebelum ke bagian ini.

Nah, karena kecintaannya kepada dunia akting ini terlihat begitu jelas melalui peran-peran yang ia lakoni, Laras mendapatkan penghargaan sebagai Best Actress di FIB Awards, suatu ajang penghargaan tingkat fakultas bagi insan seni yang ada di dalamnya. Dia mendapatkan penghargaan atas perannya yang memukau para juri sebagai seorang prajurit wanita gagah berani dari Prancis. Para juri sungguh terpukau dengan ekspresinya yang total ketika berakting.

Padahal di luar panggung, Laras ini adalah seseorang yang tidak bisa ekspresif; dia tidak terbiasa untuk menunjukkan perasaannya, entah itu senang, sedih, marah. Hal ini terjadi semenjak kematian ayahnya dan disusul dengan serangan depresi pada sang ibu. Dan yang paling buruk lagi, dia sukar untuk merasakan cinta. Dia bahkan merasa kalau dia tidak butuh hal itu sehingga tidak pernah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mendekatinya, termasuk teman satu jurusan sekaligus rekannya di teater, Arga. Sampai kemudian, suatu kejadian mulai meluluhkan kekerasan hati Laras…

Mas Gede, pelatih teater Laras dan teman-temannya, meminta Laras besera dua aktor lainnya yang terkenal berbakat, Arga dan Gilang, untuk menjadi tiga pemeran utama dalam drama bertemakan roman, dengan latar tempat di Eropa sekitar abad ke-18. Apabila mereka bertiga dapat bermain dengan baik, mereka akan diberi kesempatan untuk kursus akting selama sebulan di Paris dan segala biaya di sana ditanggung oleh sponsor. Tentu saja Laras, Arga, serta Gilang sangat termotivasi walaupun juga was-was, karena kalau salah satu saja dinilai tidak memuaskan, tidak satu pun dari antara mereka akan pergi ke Paris.

Dan ternyata, sekalipun mereka bertiga pemain berbakat, ternyata prosesnya tidak berjalan dengan mulus…

Laras ternyata kesulitan menjiwai perannya sebagai isteri dari Raja Alfred yang diperankan oleh Arga, yaitu Ratu Adeline. Dalam cerita itu, Ratu Adeline yang ditinggal sang suami untuk pergi berperang malah jatuh cinta dengan tangan kanan Raja Alfred, yaitu Rozlard. Laras sama sekali tidak suka dengan karakter Adeline yang begitu tunduk pada cinta dan terlihat lemah. Perannya kali ini sangat berbeda dengan peran-perannya terdahulu, yang menceritakan sosok wanita yang tangguh , tidak mudah menyerah, dan tidak mudah terbawa perasaan, jauh berbeda dengan sosok Adeline ini. Akibatnya, Laras tak henti-hentinya dimarahin oleh Mas Gede. Laras sendiri merasa tidak enak dengan Arga dan Gilang karena berpotensi menyebabkan mereka batal pergi belajar. Dia bahkan sempat menyampaikan keinginannya untuk mundur kepada Mas Gede, yang tentunya sangat ditentang oleh pria banyol itu karena talenta Laras yang begitu menjanjikan.

Sepupu Laras sendiri, Farahman Aulia atau Fara, terheran-heran menyaksikan ketiadaan semangat dalam diri Laras untuk melakoni peran Adeline itu. Fara sendiri menduga mungkin karena Laras belum pernah punya pacar, jadi dia belum pernah merasakan cinta. Kalau sudah begitu memang sulit. Tapi ketika tengah membereskan foto-foto keluarga mereka, tanpa sengaja Fara menemukan foto Laras ketika masih SMA dulu. Di foto tersebut, Laras tampak begitu ceria dan berbinar, sangat berbeda dengan dirinya yang biasa, dirinya setelah ayahnya meninggal.

Singkat cerita, Fara akhirnya tahu penyebab di balik keceriaan Laras di foto itu. Tak hanya itu, dia pun tahu bagaimana caranya menumbuhkan perasaan cinta pada diri gadis itu, yang tak hanya akan membantunya untuk menjiwai Adeline, tapi juga bisa mengembalikan cinta lamanya.

Dan cinta lama itu adalah alasan di balik impian gadis itu akan dunia teater, Prancis, dan teman khayalannya.

Cinta pertama bukan sembarang cinta

Di perasaan itulah, untuk pertama kalinya, seseorang belajar menerima, memaklumi, dan menghargai segala kelemahan seorang manusia.

Tidak peduli seberapa besar kekurangannya, hati sudah terlanjur memilih sang pujaan. Dan sebagai manusia yang tak sempurna pula, aku berharap dirinya pun demikian, mau memaklumiku apa adanya.

Cinta pertama berbeda dengan cinta-cinta yang lain. Nafsu, emosi, dan keegoisan belum menempel di dalamnya. Cinta ini hanya mengandalkan kepolosan dan rasa kagum kepada orang lain.

Jangan pernah dimungkiri! Untuk merasakan cinta kedua, ketiga, keempat, kesepuluh, ketujuh belas, dua puluh, kesekian, dan terakhir kali, kau akan tetap menggunakan cinta pertama sebagai acuan untuk belajar mendalami perasaan sayang yang lain.

Karena pada saat cinta pertama, pengalaman pertamamu menyayangi dan berharap disayangi tumbuh bersamaan dengan perubahan drastis emosimu. p.176

Sesungguhnya, di bagian awal cerita, saya kurang menikmati. Mungkin, karena kehidupannya masih seputar Laras dan kehidupan teaternya dan belum masuk ke dalam konflik utamanya. Dan terus terang, tadinya saya pikir cerita ini berkisah akan kegalauan remaja masa kini. Apalagi, kalau membaca judul novel dan melihat sampulnya. Tapi ternyata tidak demikian. Tampilannya memang sangat remaja dan bahasanya juga lugas dan tidak seperti kebanyakan karya sastra lainnya, tapi ceritanya mengandung pesan yang bagus mengenai dua hal penting dalam hidup manusia : impian dan cinta.

Kenapa impian? Bisa dilihat dari si tokoh utama, Laras, yang sangat bersemangat untuk meraih mimpinya menjadi seorang pemain teater profesional dan pergi ke Prancis meskipun pilihan tersebut tidak disukai oleh ibunya. Dia berjuang untuk bisa mendalami peran-perannya dengan baik. Dan sekalipun ia kehilangan motivasi utamanya, tidak lantas ia berhenti. Bisa ditebak Laras dan impiannya berakhir seperti apa :p

Dan cinta… yah, tentunya hal ini tidak lepas dari novel yang salah satu tema utamanya adalah makhluk satu ini. Tapi cinta yang tertera dalam novel ini tidak sebatas cinta eros alias ala sepasang kekasih semata. Cinta pada orang tua juga menjadi poin penting dalam cerita ini, terlihat dari sosok Laras yang masih belum bisa melupakan ayahnya dan sangat ingin ibunya sembuh dan tidak merasa ketakutan lagi. Sekalipun ibunya sendiri sulit untuk memberikan kasih yang Laras butuhkan karena kondisi batinnya yang masih terguncang, Laras tetap berusaha menunjukkan rasa sayangnya lewat hal-hal kecil.

Cinta ala sepasang kekasihnya sendiri juga tidak norak atau yang memicu kegalauan (aseek). Aku sendiri suka bagaimana cinta pertama didefinisikan di dalam cerita ini. Sayangnya, ini baru terasa ketika mendekati akhir yang akhirnya membuatku juga baru merasakan ikatan dengan Laras saat itu juga. Tapi efeknya sudah cukup untuk mendorongku merenung sendiri (bukan galau, lho!).

Secara teknis sendiri, masih ada beberapa kesalahan pengetikan dan bahkan kesalahan nama tokoh. Hal itu diakui oleh penulisnya sendiri di dalam reviewnya (note : bikin link Goodreadsnya). Dialog bahasa Prancis-nya banyak, tapi pembaca bisa langsung mengerti karena sudah ada terjemahannya langsung di dalam kurung. Sekalian bisa belajar juga, bukan? (Walaupun saya sendiri tetap tidak mengerti cara membacanya hihi).

Ngomong-ngomong, sejujurnya saya tidak terlalu mengerti kaitan antara judul novel ini dengan alur ceritanya. Sudah mencoba menyambung-nyambungkan, tapi tetap rasanya tidak nyambung. Haha. Ini pendapat saya pribadi saja, sih, hihi.

Aku lumayan suka dengan novel ini, lumayan memberikan warna buat bacaanku yang kebanyakan berkisahkan penjahat, detektif, dan sejenisnya. Kalau memang lagi butuh bacaan yang pesannya dalam tapi dikemasnya dengan ringan, menurutku buku ini cocok jadi pilihan pertama.

PS : Sebelum membaca novelnya ini, aku sudah lebih dulu membaca karya Mba Nadia, yang berupa kumpulan cerita berlatar sejarah, yang diterbitkan secara indi. judul bukunya Stories From The Past. Aku pinjam bukunya dari temanku, namanya Ges, yang adalah temannya Mba Nadia juga. Sewaktu membaca karyanya itu, aku berpikir Mba Nadia ini keren dan tidak ikut-ikutan arus. Belum lagi, dia harus melakukan riset untuk membuat cerita itu. Keren deh! Tapi yang ini juga tidak kalah keren, kok, membuktikan bahwa Mba Nadia piawai dalam mengemas cerita bertema lebih luas.

Dan waktu membaca novel ini, aku jadi mengingat masa kuliah di UI setahun lalu (lulus tahun 2013 =)). Memang aku tidak satu kampus dengan Mba Nadia, yang notabene sama dengan si tokoh utama cerita Soulmate On The Backstage ini. Tapi aku lumayan tahu mengenai acara-acara kreatif fakultas Mba Nadia dan selalu takjub hihi.

Semoga karya yang merupakan debut Mba Nadia bersama dengan salah satu penerbit ternama ini bisa mendulang sukses buat karir Mba Nadia sebagai penulis! =)

 

 

=)

Rating : 3/5

Review Post : Gone Girl

Gone Girl

Gone Girl

Gone Girl

 Title : Gone Girl

 Author : Gyllian Flynn
 Publisher : Phoenix Fiction UK (UK Version)
 Pages :  466 Pages
 Year of Publication : 2012 (in Great Britain)
 Language : English
 Genre(s) : Mystery, Thriller, Romance
 Bought from : I borrowed this one from my sister =)

 Synopsis and Cover Pic : Goodreads

Synopsis :

Who are you? What have we done to each other?

These are the questions Nick Dunne finds himself asking on the morning of his fifth wedding anniversary, when his wife Amy suddenly disappears. The police suspect Nick. Amy’s friends reveal that she was afraid of him, that she kept secrets from him. He swears it isn’t true. A police examination of his computer shows strange searches. He says they weren’t made by him. And then there are the persistent calls on his mobile phone.

So what did happen to Nick’s beautiful wife?

***

Okay, I don’t know how to explain my opinion about this novel. I’m having, you know, a love-hate feeling towards this. I 
really want to express it in the shorter form but once I start writing, I can’t stop it. So here I am babblering and I hope 
you are interested enough to read =)

The premise of this novel is nothing new for me . It is about a man, Nick Dunne, a young-retired journalist, whose wife, Amy Elliot Dunne was gone missing from home while he was away, and suspected that she was kidnapped considering a mess that occured in their home. But the police and other people around Firstly, this reminded me of Paper Towns with quite similar premise and plot. Even the character of the female leads is in a certain way indifferent. I almost gave up to read this because it was quite boring in the beginning, thinking I’d better go for another novel more worth of the attention. But I thought it was a shame to drop this and give up. And it turned out I didn’t regret my decision. Facts revealed in the middle, about Amy. About who she actually was and what she was actually thinking. What she was actually planning to her husband. She, in fact, was not the sweet amazing Amy everyone’d been thinking of. She was a really freakin…okay, you know, when I knew this I was really pissed!!!! Fckin pissed! I gave my sympathy to her in the beginning , like she really wanted to delight Nick but it just didn’t work out, and Nick had a secret young mistress. But that feeling towards her directly dissolved and shifted towards Nick after knowing she ran away and made it look like her husband killed him on purpose to make Nick suffer and be accused of the murder which never happened.

“The way some women change fashion regularly, I change personalities. What persona feels good, what’s coveted, what’s au courant? I think most people do this, they just don’t admit it, or else they settle on one persona because they’re too lazy or stupid to pull off switch.” p.250

I know I shouldn’t have been like this for a fictional character but you know that feeling right, outraged towards persons in the novel who you know do not exist but you just keep feeling pissed because of who they are? That’s exactly what I was feeling back then. Fiuh. Well, I tried not to tell you a complete story, I do not want to spoil anything, but just a little hint, Amy is like a woman version of the TV-Version Sherlock– A high functioning sociopath. 

Really, what she did to her husband is really surprisingly horrible. Okay, I started being subjective and emotional..

Now that you read half of this, it may seem to you that this is a dark-love story, but it’s not. Flynn packed it 
with so many humors, shown throught the thought of the two main characters. SHe definitely annoyingly shocked and amazed me with the real Amy. She suceeded in making me curious of where the story headed and in the end, well, it’s quite unpredictably predictable. Okay, it’s confusing but when you read and finish with it, you might know what I’m trying to say…or you might not. Try not to be more confused lol.

Anyway, I have no favorite character in this story. Nick got my symphaty but the fact that he cheated was just too much to be ignored. But if I were asked who the most sane one is among all insane ones in this story, I would say Go, Nick’s little sister. She was cool, you know. I like her, but not enough to declare her my favorite.

“You just want an excuse to stay… You two, you’re fucking addicted to each other. You are literally going to be a nuclear family, you do know that? You will explode. You will fucking detonate. You really think you can possibly do this for, what, the next eighteen years? You don’t think she’ll kill you?” p.460

Because this novel was written to describe two perspectives from two main characters, it emphasized more of how Nick and Amy thought about each others, and also about some people involved in their marriage life. That is why it’s not too detailed in describing things, places, and other setting elements. It’s okay for me, and it’s not cheesy at all.

“Until Nick, I’d never really felt like a person, because I was always a product. Amazing Amy has to be brilliant, creative, kind, thoughtful, witty, and happy.” p.252

This story teaches me that not all things can happen like the way we hope. It’s a mind trap for Amy, and for me, and anyone else. Even Amy was willing to lie to herself, to anyone, about who she really was to be able to make everything under her control. And being brilliant can get us anywhere, but not everywhere. There must be flaws in our brilliant plan. Again, it occured to Amy, so we do not need to be too confident and proud of it. And the last, be ourselves. Not everyone can take us for granted, for who we really are, but there must be someone, some people, who will. So I learn not to pretend, not to mention to lie to everyone to gain their attention and symphathy.

“Nick loved me…But he didn’t love me, me. Nick loved a girl who doesn’t exist. I was pretending, the way I often did, pretending to have a personality…” p.250

This is the most uncomprehensive and subjective review I’ve ever written (Have I ever been not? Lol). Despite making me bored in the threshold, I like this book and I recommend it to you! Enjoy it and please, for women, do not be an Amy!

Cheerio!!

“But my point was, do something. Whatever it is, do something. Make the most of the situation. Don’t sit and wait for me to fix everything for you.” p.203

PS : I like this quote. Though the context is different, but it pushes me to maximize everything I have, in every situation and not to wait for another people to get help.

 

By the way, this novel is adapted to movie, starring Ben Affleck as Nick  Dunne and Rosamund Pike as Amy Elliot Dune. This is directed by David Fincher (the one who also directed The Girl with The Dragon Tattoo, Panic Room, and The Social Network) and will be out this October. The casts are interesting! Can’t wait to see how they will portray the characters. But I heard there will be something different in the ending. Or will it be totally different? Well, we just can wait and see.

=)

Rating : 4/5

Review Post : Lalita

lalitaLalita
Judul : Lalita  (Seri Bilangan Fu, #2)
Penulis : Ayu Utami
Publisher : Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman : 256 
Tahun terbit : 2012
Bahasa : Indonesia
Genre(s) : Romansa, kontemporer, sedikit sejarah
Tempat pembelian : Gramedia Hotel Santika Medan 
Sinopsis dan Gambar Sampul : Goodreads
Sinopsis :
Lalita menerima sejilid kertas tua berisi bagan-bagan mandala, dan sejak itu setiap hari pengetahuannya tentang sang kakek bertambah. Setiap kali pengetahuan itu bertambah banyak, setiap kali pula sang kakek bertambah muda dalam penglihatannya. Pada suatu titik ia bisa sepenuhnya melihat seorang remaja berumur tiga belas tahun, yang berdiri lurus kaku dan kepala sedikit miring seolah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.Apa hubungan semua itu dengan Candi Borobudur? itu akan menjadi petualangan Yuda, Marja, dan Parang Jati

***
Ini pertama kalinya aku membaca karya Ayu Utami, namun bukan berarti aku belum pernah mendengar tentangnya. Sebelum aku membaca Lalita, aku terlebih dahulu mengetahui Saman. Waktu itu, aku masih kelas 2 SMP. Seorang teman membawanya ke sekolah untuk tugas membaca dan meresensi novel, walau akhirnya tidak jadi karena ceritanya sulit dipahami. Tapi waktu itu, temanku itu pernah menunjukkan satu bagian dari buku tersebut yang mengutip salah satu kitab Salomo, yaitu Kidung Agung pasal 7:8 yang berbunyi, “Kataku: “Aku ingin memanjat pohon karma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel””. Jujur, bukan main kagetnya membaca bagian seperti itu, dan ternyata itu dari Alkitab pula (waktu itu, aku belum paham kalau untuk memahami kitab tersebut, seseorang harus memahami konteks pasal tersebut). Maklumlah, waktu itu saya masih baru mengenal yang namanya baca novel, dan bacaan pertama juga yang genre-nya teenlit. Dan semenjak itu, saya tidak berani membaca karya Ayu Utami. Pertama, kesan pertama membaca sekilas novel Saman itu membuat saya berpikir kalau novel karya Ayu Utami ini ada adegan ‘gitu-gituan’ dan saya merasa belum siap waktu itu. Kedua, entah kenapa waktu itu saya tertariknya sama novel-novel bertema kriminal dan atau bertokoh utama detektif, selain teenlit (;p) seperti karangan Agatha Christie, Arthur Conan Doyle, Mary Higgins Clark, dll.
Jadilah, karya Ayu Utami tak sempat tersentuh…
…sampai beberapa minggu lalu! Ya, tepat tanggal 5 Januari 2014, aku membeli salah satu novel dari seri Bilangan Fu karangan salah satu penulis Indonesia terkenal ini. Didorong oleh kebutuhan karena mengikuti New Author Reading Challenge plus rasa penasaran karena mendengar komentar teman yang positif menjadi alasanku mencoba membaca karya Ayu Utami ini. Inginnya sih, seri pertama Bilangan Fu yaitu Manjali dan Cakrabirawa, tapi waktu itu adanya seri kedua ini. Agak ragu tapi setelah aku cari tahu, cerita kedua ini bukanlah sambungan total cerita pertama sekalipun tokoh-tokohnya sama sehingga saya pun akhirnya tetap membeli. Ada kekhawatiran akan merasa kecewa (tadi ragu, terus malah khawatir haha), tapi ya sudahlah, aku pikir tidak ada salahnya mencoba. Kalau memang tidak sesuai harapan, bukan pertama kalinya kan…
Dan ketakutanku tidak terjadi! Ketika saya membaca bagian awal, yaitu Hitam, yang dimulai dengan prolog, aku langsung merasa cocok dengan gaya penulisan Ayu Utami. Kalau aku bilang, gaya penulisan penulis satu ini tuh crunchy! Kalau diibaratkan seperti makan kerupuk yang renyah. Bahasanya rapi dan mudah dicerna. Belum lagi, Ayu Utami cukup rinci menjabarkan deskripsi tempat, waktu, dan sosok tokoh-tokohnya, apalagi Lalita (ya iyalah, ini kan cerita tentang dia). Bisa dibilang, sembari membaca isinya, aku sekaligus mempelajari gaya penulisan Ayu Utami. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk karyaku (tentunya tidak menjiplak).Dari segi isi sendiri juga sangat memukau saya. Aku cerita sedikit ya (tenang, tidak akan spoiler ^.^). Bermula dari pertemuan Yuda, seorang mahasiswa yang hobi panjat tebing dengan seorang wanita berusia sekitar 40tahunan pemilik galeri seni bernama Lalita, yang berdandan mewah dengan dominan warna ungu, yang membuat Yuda menjulukinya Perempuan Indigo.

“Wanita berlonceng yang berdandan mencolok dalam tanktop ungu ketat, sepatu biru gelap, lensa kontak nila, sepuhan mata warna bulu merak, menghisap rokok
ramping ungu. “
“Indigo adalah nama lain bagi biru yang mendekati ungu.”
“Kau tak mengatakan secara langsung pada seorang perempuan bahwa ia adalah perempuan ini atau perempuan itu. Apalagi perempuan dengan warna tertentu..Perempuan yang berdandan menor pastilah ingin dipuji cantik. Bukan dikomentari warnanya.”

Mereka bertemu untuk urusan pekerjaan, yang dimediasi oleh teman Yuda yang adalah pacar wanita itu, yaitu Oscar. Di awal, Lalita tidak terlalu memperhatikan Yuda. Yuda sendiri, sekalipun terkesima dengan keunikan wanita berumur ini, malah asyik dengan pikirannya sendiri, yang salah satunya mengenai sahabatnya, Parang Jati, yang marah padanya dan dengan sengaja mengajak kekasih Yuda, Marja, berlibur. Hingga akhirnya di acara yang dihadiri oleh mereka bertiga, Yuda menyelamatkan Lalita dari tindakan jahat seseorang yang cemburu pada wanita itu dan hubungan mereka pun menjadi lebih ‘akrab’. Lalita mengajak Yuda ke rumahnya dan menunjukkan padanya pengalaman dan pengetahuan baru (tentang seni, axis mundi, dan seks x] ) sekaligus rahasia-rahasia, yang sulit dipercaya, yang tersimpan dalam buku Indigo milik Lalita.

“Tapi Yuda tak bisa melupakan apa yang ia sebut sebagai “sensasi tutup sampanye’. Perempuan itu menyebutnya “axis mundi”. Bisakah ia mencapainya dengan Marja?”

Tapi tidak sampai di situ. Ternyata ada harga yang harus dibayar dari keterlibatannya dalam hidup Lalita. Tidak akan jadi masalah mungkin kalau saja Marja tidak dilibatkan…
Ya, selanjutnya silakan baca sendiri! Hehe.
Selain dari ceritanya, hal-hal lain dari segi isi yang aku suka adalah ilustrasi – ilustrasi yang menjelaskan beberapa komponen dalam cerita ini, sehingga pembaca tidak  kesulitan untuk membayangkannya. Belum lagi, di novel ini Ayu Utami menggabungkan sedikit kisah nyata ilmuwan kejiwaan dengan kisah salah satu tokoh di novel ini, sehingga aku bisa belajar sedikit mengenai masa lalu orang-orang seperti Carl Jung dan Sigmund Freud. Jujur saja, aku selalu kagum dengan novelis yang memasukkan tokoh-tokoh dunia nyata beserta kejadian yang mereka alami ke dalam dunia ciptaannya. Plus, aku pribadi seakan belajar tentang Candi Borobudur tapi dengan tidak ribet. Jadi nambah wawasan dan kesadaran untuk menghargai Borobudur. Oh ya, satu hal lagi yang bikin aku takjub, Ayu Utami bisa sekali menggambarkan adegan
bercinta (ehem, tahu kan maksudnya? hehe) jadi lebih…filosofis? Bingung juga menjelaskannya. Yah, itulah yang kesan yang aku dapatkan. Jadi makin kagum sama Ayu Utami.

Karakterisasinya sendiri cukup realistis, menurutku. Tidak ada tokoh yang sempurna baik , tapi tidak ada yang sempurna jahat juga sehingga cukup realistis. Mungkin yang bisa dibilang lumayan bermoral itu Parang Jati, tapi entah kenapa aku tidak tertarik. Hmm, sebenarnya aku sendiri tidak punya tokoh favorit di novel ini, entah kenapa. Dan ini pertama kalinya dalam sejarah tidak ada tokoh pria yang memukau diriku haha. Alhasil, aku benar-benar fokus sama penyelesaian masalah utama di novel ini dan berposisi netral terhadap kisah cinta para tokoh.
Setelah membaca novel ini, aku jadi penasaran sama novel-novel Ayu Utami yang lain. Mungkin setelah ini, aku akan mencari Bilangan Fu dan seri Bilangan Fu yang pertama, yaitu Manjali dan Cakrabirawa sehingga aku bisa lebih memahami kisah awal Yuda, Parang Jati, dan Marja. Sudah mencari di beberapa toko buku tapi belum ketemu hiks. Semoga bisa segera mendapatkan.
Kalau membaca review ini, pasti uda bisa ditebak kalau aku merekomendasikan kalian semua untuk membaca novel ini. Menambah wawasan dan menghibur.
Dan akhirnya, Ayu Utami jadi novelis favoritku. =)

“Kau tak akan pernah melihat wajahnya tanpa riasan. Selama ia masih hidup. Jika kau melihat itu, maka berarti ia mati. Ia sedang mati pada momen-momen itu.”

Rating : 4/5

Rush In Love – Man of Fate

Aku melihat jam tanganku sambil berdecak bosan. Kugeser permukaan tanah dengan kaki kananku yang tampaknya juga bosan berdiri selama tiga puluh menit, sendirian, dekat tembok taman seperti orang bodoh. Seraya merutuk dalam hati akan kebodohan diriku terkait berbagai hal yang terjadi sebelum aku sampai di sini, aku mengarahkan pandangaku ke berbagai penjuru taman ini, mencari sosok yang kutunggu-tunggu.

Tak berapa lama, kudengar suatu suara nyaring terarah padaku diiringi suara langkah kaki yang terburu-buru. “Mayaaaaa…”

Aku menoleh dan menatap gadis berkepang kuda ini dengan sinis. “Bagus yaa, lo bikin gue nunggu untuk kesekian kalinya!”

“Aduuuh maaf May, semalam gue begadang terus jadinya bangun siang bangeet. Terus gue telfon lo tadi buat ngasih tahu gue telat tapi ga diangkaat.” Ujarnya dengan sedikit tersengal. Kelihatannya dia berlari begitu kencang karena keterlambatannya itu. Tapi sayang, saat ini aku sedang tidak punya rasa kasihan. Jadi terus saja kusemprot dia.

“Lo tuh kebiasaan ya, Emy. Begadang ga jelas terus bangun kesiangan dan akhirnya telat ngapa-ngapain. Masalahnya yaa hari ini gue uda batalin janji buat ketemuan ama Tommy cuman buat MAKAN BARENG LO! Tapi lo nya malah dateng telat. Gimana sih?!”

“Tapi gue uda coba nelfon looo May…”

“Ketinggalan di rumah!” balasku sarkas.

Cewek  yang sudah jadi temanku sejak SMP ini malah tersenyum usil mendengar ucapanku barusan dan berkata, “Kaaan berarti gue ga sepenuhnya salaah…”

Aku meliriknya dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin aku bisa berteman dengannya selama sembilan tahun ini?

“Terserah lo deh!” ujarku akhirnya. “Pokoknya lo harus traktir gue yang banyak hari ini! inget ya, lo harus bayar kerugian gue batal kencan ama Tommy terus bikin gue nunggu tiga puluh menit ga jelas cuman buat menanti lo!!”

Emy menatapku seraya meletakkan telapak tangannya ke sisi matanya, tanda hormat, dan berkata, “Siap, bos! Pokoknya hari ini kita senang-senang sepuasnyaaaa buat ngerayain ulang tahun gueee! Kan kita sahabaaat! Hehe…”

Aku mengedikkan bahu dan jalan duluan, pura-pura meninggalkan Emy. Seperti yang kuharapkan, dia dengan uring-uringan mengikutiku. Dan dengan kekanak-kanakannya, langkah kakiku kupercepat sehingga menyebabkan dia lebih terbirit-birit mengikutiku. Maklum, Emy termasuk cewek pendek dengan langkah kaki pendek pula sehingga sekalipun dia berlari sekencang yang dia bisa, bagiku yang tinggi bak model ini dia terlihat berjalan haha jahat ya aku. Tapi begitulah, persahabatan kami memang gak ada manis-manisnya seperti cewek-cewek kebanyakan.

Aku terus saja mempercepat langkahku hingga akhirnya aku mendengar teriakan Emy yang mengaduh kesakitan. Aku lantas menoleh dan melihat satu adegan yang cukup familiar di sinetron-sinetron abad 21 ini.

Emy, dengan pose setengah berdiri menghadap tanah, berada dalam genggaman seorang lelaki berkaca mata.

Dan yang membuat itu semua tampak lebih sinetron-ish lagi, mereka bertatapan selama beberapa waktu. Tepatnya, Emy menatap lelaki itu lurus, terlihat terpesona, dan tanpa berkedip sementara lelaki itu melihatnya dengan gugup dan salah tingkah.

Tanpa bermaksud mengacaukan suasana, aku mendekati mereka dan menarik Emy walau agak susah. “Makasih ya Mas…” ujarku singkat. Waw, dia tinggi juga, pikirku saaat aku harus mendongak untuk melihatnya.

“Oh gak apa, Mbak. Ini emang ada kaleng ganggu banget hehe saya buang aja kali ya biar ga ganggu orang lain. Permisi, Mbak.” Setelah memungut kaleng yang, tampaknya, membuat Emy terjatuh, ia melihat ke arah Emy dan berkata, “ Lain kali hati-hati ya, Mbak.” Dan berlalu.

 Aku melirik ke sebelahku dan mendapati Emy mengunci tatapannya ke cowok itu. aku hanya bisa menggelengkan kepalaku mengetahui bahwa sobatku yang satu ini fall at first sight.

He’s my man of fate.” Ujarnya.

“Apa?”

My man of fate!” dia menatapku dengan berbinar-binar “Mayaaaa ya ampuun doa gue terkabuul! Tuhan ngirim gue cowo di hari ulang tahun gueeee…”

Aku mengernyitkan dahiku dan berdesis. “Man of fate? Oh sis how could you believe such thing? Dan lo bahkan ga tahu namanya.”

“Aduuh lo kok gitu sih? Makanya kejar dia yuuk May…” dia menarik tanganku namun aku tetap bergeming. “Ahhh ayuuuk.”

“Uda telat, My. Dia uda ga keliatan lagi tuh ada di mana. Lagian freak abis ngajak kenalan tiba-tiba gitu. Ntar lo dikira cewek gatel! Males banget.” Ujarku sewot sembari menyilangkan kedua tanganku di dada. “Lagian tu orang kayanya tukang sampah deh, kaosnya tuh jorok banget hiih mungutin kaleng botol lagi. Masa orang kaya gitu sih yang dikirim buat jadi pacar lo?”

“Ihh May kok lo tega bangeet siih. Itu kan namanya baik, dia ga mau orang-orang celaka kaya gue gara-gara itu kaleng!”

“Ah… uda ah males gue bahas ginian! Bahas cowo ntar aja abis makan.” Omelku.

***

-continue to read->

Time After Time ~Chapter 2

“Leo… Leo…”

Kudengar suatu suara bernada cemas memanggilku. Kurasakan pula tubuhku diguncang – guncang. Entah pemilik suara dan tangan itu sama atau tidak, tapi yang jelas dia ataupun mereka khawatir sekali denganku sekarang.

Tidak, tidak bisa begini, pikirku. Aku tidak boleh hanya tergeletak di sini sementara mereka menantiku. Aku harus bangun. Harus! Ayolah, Leo!

Dan akhirnya, aku berhasil mendapatkan kesadaranku. Kucoba untuk membuka kedua mataku perlahan – lahan. Kabur, mataku mendapati dua orang tengah membungkuk memperhatikanku. Yang satu berbadan besar, rambutnya model cepak agak tebal, dan memakai kaos putih. Hmmm, sepertinya itu coach. Dan yang satu lagi sepertinya wanita. Terdengar dari suaranya yang terus memanggilku. Tampaknya dia yang sedari tadi memanggilku dengan cemas. Ia juga yang mengguncang – guncang tubuhku penuh semangat. Hehe… dia benar – benar khawatir, ya. Selalu seperti ini akhirnya. Aku selalu membuatnya begini.

“Leo, akhirnya kamu sadar juga!” dia menghela nafas. Coach tersenyum. Sekarang aku sudah jelas melihat.

Kucoba mengangkat kepalaku. Ukh, pusing. Tapi sepertinya masih bisa kutahan. Yang jelas aku harus bergegas menuju lapangan.

“Eh, kamu rebahan dulu!” cegahnya.

“Jangan begitu, Mai! Aku harus kembali ke lapangan! Eksekusinya harus kuselesaikan!” aku mencoba bangkit dari kursi panjang tempatku rebah sedari tadi. Dan baru kusadari, ternyata aku berada di ruang ganti pemain.

Tiba – tiba sebelah tangan coach menahanku. Kemudian, ia mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa memaafkan diriku. “Kita sudah kalah, Leo!”

Gak mungkin! Akukancuman pingsan sebentar! Masa tidak bisa diberi kesempatan kedua untuk mencoba adu pinalti lagi! kalimat-kalimat itu terngiang di kepalaku tanpa sanggup aku keluarkan. Bibirku hanya menganga dan mataku melongo ke arah coach seperti orang bodoh. Dan sepertinya, setetes air turun dari mata kananku.

“Kamu pingsan setelah menendang, Leo. Dan tendangan kamu tidak tepat sasaran.” Coach melanjutkan. “Kalaupun kamu pingsan sebelum menendang, sudah pasti kami tidak akan menunggumu. Pemain lain harus menggantikanmu.” Sekarang, kedua tangan coach memegang bahuku dan menekannya pelan.

Aku tertegun. Mendadak, kepalaku pusing lagi. Apa itu benar? Aku sudah melakukan tendangan penalti? Tapi kenapa aku tidak ingat ya? Aduh, pusing sekali.

“Kamu gak apa – apa, Leo?” tanya Mai. Dia mulai cemas lagi.

“Gak apa – apa kok!” aku mencoba tersenyum sembari memegang kepalaku yang serasa mau pecah ini. Arkhhhh! Kenapa aku dihadiahkan sakit kepala yang menyulitkan ini, sih?
coach menepuk – nepuk pundakku, hendak menenangkanku sepertinya. Aku sedikit terbatuk. Tepukannya terlalu keras. “Sudahlah, Leo! Tidak apa – apa. Toh tim kita sampai di sini juga sudah hebat. Sekolah kitakan masih bisa ikut lagi tahun depan.”

“Iya, tapi aku sudah bukan di tim ini lagi!” seruku.

“Ya kamukanbisa gabung di tim SMA kita. Toh juga kamu rencananya mau lanjut ke SMA kitakan? Saya juga tetap bangga padamu, Leo.”

Aku berdecak. Ini benar – benar tidak bisa diterima. Padahal tinggal sedikit lagi tim kami bakal menang. Kalau saja aku tidak gagal mengeksekusi tendangan tadi seperti yang diceritakan coach. Seandainya bukan aku yang mengeksekusi…

“Hey, kita keluar yuk!” ajakan Mai membuyarkan pikiranku. Aku mengangguk. Aku kemudian berdiri sambil terus memegang kepalaku yang terasa semakin menyebalkan.

Aku berjalan menuju pintu keluar dengan tangan Mai terus merangkulku. Aku langsung melepaskan diriku darinya. Sedikit malu rasanya dibopong anak perempuan. Dan lagi, aku sudah cukup membuatnya cemas. Masa sekarang aku mau merepotkannya?

“Atau saya saja yang membopongmu?” suara coach sedikit mengagetkanku. “Jalanmu oyong tuh!”

“Tidak, tidak us…”

Kesadaranku masih utuh ketika tubuhku terjatuh dengan merepotkannya ke arah Mai. Setelah itu, semua gelap.

***

   Setengah jam sebelumnya

“YUKA… YUKA…”

Terdengar suara supporter sekolah kami semakin keras memberi semangat.

Kami jadi semakin semangat setelah Rico dengan indahnya membobol gawang dengan tendangannya. Hal itu sepertinya sedikit membuat tertohok Tadaru. Lihat saja, wajah pemain mereka mendadak tegang setelah menyaksikan aksi Riko itu. Hmm, aku jadi tidak sabar menyaksikan eksekusi pemain mereka.

Dan pemain mereka yang bernomor 5, kalau tidak salah namanya Fai, yang mendapat giliran pertama untuk melakukan penalty shootout bagi Tadaru. Dia kelihatan meregangkan tangannya sekarang sambil melompat – lompat kecil. Hmmm, buat apa ya? Mengusir ketegangankah? Hebat juga kami ya, bisa membuat tim besar seperti mereka sedikit kehilangan keyakinan.

Well, well, aku berharap ini tidak terjadi karena kalimat sombongku barusan. Fai dengan sukses memasukkan bola ke gawang James. ampun deh, kedudukan jadi samakankalau begini? Dan mereka… mereka jadi percaya diri lagi. Huhhh, semoga giliran kami setelah ini berhasil. Semoga yang diturunkan coach sehebat Riko dalam hal pinalti. Dan aku sangat – sangat berharap semoga yang diturunkan itu DIA. Aku lantas tersenyum, yang kuyakini membuat wajahku jadi kelihatan bodoh.

Dari bangku official, kulihat Donovan berjalan mendekati kotak pinalti. Wah, syukurlah! Memang pilihan yang tepat menurunkan Donovan untuk eksekusi pinalti. Tendangannya keras dan terarah untuk bola mati. Coach sangat sayang padanya. Menurutku, dia tidak kalah dengan Beckham. Yah, beda tipis sajalah. Walau begitu, menurutku dia bukan yang terhebat di tim kami. Masih ada dia. Aku tersenyum, kali ini membuat wajahku lebih bodoh lagi kurasa.

Dia juga… Ah! YEEEEEHHHHH!!! Berhasil! Berhasil! Donovan melakukannya dengan baik! Kiper Tadaru yang namanyaEdoitu juga cukup hebat. Dia hampir saja menangkap bolanya itu. Untung saja tidak berhasil. Dia kurang cepat dari bola sepertinya. Huaaa… kami unggul.

Eits, aku tidak boleh sombong. Mereka saja yang di lapangan tetap berusaha tenang dan berusaha tidak terlalu gembira dulu sebelum mereka benar – benar menang. Masa aku yang cuman berdiri menyaksikan ini lantas sombong?

Dan hingga empat pemain dari tiap tim diturunkan, hasil tetap seri. Aduh, aku tegang. Jantungku jadi berdebar – debar. Kedua kakiku goyang – goyang tidak jelas, jadi terlihat seperti aku sesak buang air kecil padahal tidak. Oh Tuhan, bagaimana ini? Apakah tim kami bisa meraih kemenangan pertama kami? Satu hal juga yang membuatku kepikiran, kenapa dia tidak diturunkan? Atau mungkin belum? Hhh… jantungku tidak hentinya berdebar layaknya pintu yang digedor dengan batang pohon besar. Lantas kupegang dada kiriku, mencegahnya lepas dari penyangganya.Ada– ada saja aku.

Satu kali lagi… ya satu lagi dan kami akan menang. Ohh… ayolah, turunkan dia…

Dia akhirnya tampil juga. Ahhhhh, terima kasih Tuhan! Akhirnya dia yang berkesempatan mengeksekusi. Dia kelihatan tenang berjalan menuju tempat eksekusinya. Aku percaya dia pasti bisa melakukannya. Oh Tuhan… ijinkanlah dia untuk menendang dengan baik.

Spontan, mulutku terbuka, meneriakkan namanya dan memberinya semangat. Dan waktu serasa berhenti sewaktu dia memandangku sembari tersenyum. Dia mengacungkan jempolnya. Huh, dasar dia! Selalu saja membuatku terpesona.

Well, walaupun dia sukses menghadiahkan tim kami satu tendangan pemberi semangat serta memberi assist yang mantap menuju gol kedua, dia tidak berhasil mengeksekusi pinalti. Tendangannya cukup keras, cepat, dan sama sekali tidak bisa ditangkap olehEdo. Tapi sayang, tidak tepat sasaran. Tendangannya mengenai tiang mistar sebelah kanan. Oh, dia kelihatan kecewa sekali. Aku jadi sedih melihatnya begitu. Rasanya jika melihatnya dalam raut wajah seperti itu, aku jadi ingin menyentuh kedua pipinya dan menariknya, menyuruhnya untuk tersenyum. Sungguh, jangan pasang raut wajah seperti itu, Leo.

Aku melihatnya berjalan dengan langkah gontai menuju teman – temannya yang terlihat semakin tegang setelah hasil pinalti barusan. Dia memegang bagian depan kepalanya. Wajahnya terlihat kesakitan. Spontan – lagi-lagi—aku berlari ke lapangan. Dan seperti yang kukira, dia tiba – tiba oleng dan tersungkur ke tanah. Dan aku gagal meraihnya. Oh Tuhan, kenapa hal ini harus terjadi di saat – saat seperti ini?

Aku menangis sambil merangkul bagian kepalanya. teman – teman satu timnya berniat mendekati kami, namun langsung dihadang coach. Coach langsung mendekati kami dan jongkok di dekat kami dengan wajah kaget. Untungnya, tim medis langsung datang sambil membawa gendongan untuk mengangkat tubuh Leo. Kami pun menuju ke ruang ganti. Aku mengusap air mataku dan berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa – apa dengannya. Semoga…