Rush In Love – Man of Fate

Aku melihat jam tanganku sambil berdecak bosan. Kugeser permukaan tanah dengan kaki kananku yang tampaknya juga bosan berdiri selama tiga puluh menit, sendirian, dekat tembok taman seperti orang bodoh. Seraya merutuk dalam hati akan kebodohan diriku terkait berbagai hal yang terjadi sebelum aku sampai di sini, aku mengarahkan pandangaku ke berbagai penjuru taman ini, mencari sosok yang kutunggu-tunggu.

Tak berapa lama, kudengar suatu suara nyaring terarah padaku diiringi suara langkah kaki yang terburu-buru. “Mayaaaaa…”

Aku menoleh dan menatap gadis berkepang kuda ini dengan sinis. “Bagus yaa, lo bikin gue nunggu untuk kesekian kalinya!”

“Aduuuh maaf May, semalam gue begadang terus jadinya bangun siang bangeet. Terus gue telfon lo tadi buat ngasih tahu gue telat tapi ga diangkaat.” Ujarnya dengan sedikit tersengal. Kelihatannya dia berlari begitu kencang karena keterlambatannya itu. Tapi sayang, saat ini aku sedang tidak punya rasa kasihan. Jadi terus saja kusemprot dia.

“Lo tuh kebiasaan ya, Emy. Begadang ga jelas terus bangun kesiangan dan akhirnya telat ngapa-ngapain. Masalahnya yaa hari ini gue uda batalin janji buat ketemuan ama Tommy cuman buat MAKAN BARENG LO! Tapi lo nya malah dateng telat. Gimana sih?!”

“Tapi gue uda coba nelfon looo May…”

“Ketinggalan di rumah!” balasku sarkas.

Cewek  yang sudah jadi temanku sejak SMP ini malah tersenyum usil mendengar ucapanku barusan dan berkata, “Kaaan berarti gue ga sepenuhnya salaah…”

Aku meliriknya dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin aku bisa berteman dengannya selama sembilan tahun ini?

“Terserah lo deh!” ujarku akhirnya. “Pokoknya lo harus traktir gue yang banyak hari ini! inget ya, lo harus bayar kerugian gue batal kencan ama Tommy terus bikin gue nunggu tiga puluh menit ga jelas cuman buat menanti lo!!”

Emy menatapku seraya meletakkan telapak tangannya ke sisi matanya, tanda hormat, dan berkata, “Siap, bos! Pokoknya hari ini kita senang-senang sepuasnyaaaa buat ngerayain ulang tahun gueee! Kan kita sahabaaat! Hehe…”

Aku mengedikkan bahu dan jalan duluan, pura-pura meninggalkan Emy. Seperti yang kuharapkan, dia dengan uring-uringan mengikutiku. Dan dengan kekanak-kanakannya, langkah kakiku kupercepat sehingga menyebabkan dia lebih terbirit-birit mengikutiku. Maklum, Emy termasuk cewek pendek dengan langkah kaki pendek pula sehingga sekalipun dia berlari sekencang yang dia bisa, bagiku yang tinggi bak model ini dia terlihat berjalan haha jahat ya aku. Tapi begitulah, persahabatan kami memang gak ada manis-manisnya seperti cewek-cewek kebanyakan.

Aku terus saja mempercepat langkahku hingga akhirnya aku mendengar teriakan Emy yang mengaduh kesakitan. Aku lantas menoleh dan melihat satu adegan yang cukup familiar di sinetron-sinetron abad 21 ini.

Emy, dengan pose setengah berdiri menghadap tanah, berada dalam genggaman seorang lelaki berkaca mata.

Dan yang membuat itu semua tampak lebih sinetron-ish lagi, mereka bertatapan selama beberapa waktu. Tepatnya, Emy menatap lelaki itu lurus, terlihat terpesona, dan tanpa berkedip sementara lelaki itu melihatnya dengan gugup dan salah tingkah.

Tanpa bermaksud mengacaukan suasana, aku mendekati mereka dan menarik Emy walau agak susah. “Makasih ya Mas…” ujarku singkat. Waw, dia tinggi juga, pikirku saaat aku harus mendongak untuk melihatnya.

“Oh gak apa, Mbak. Ini emang ada kaleng ganggu banget hehe saya buang aja kali ya biar ga ganggu orang lain. Permisi, Mbak.” Setelah memungut kaleng yang, tampaknya, membuat Emy terjatuh, ia melihat ke arah Emy dan berkata, “ Lain kali hati-hati ya, Mbak.” Dan berlalu.

 Aku melirik ke sebelahku dan mendapati Emy mengunci tatapannya ke cowok itu. aku hanya bisa menggelengkan kepalaku mengetahui bahwa sobatku yang satu ini fall at first sight.

He’s my man of fate.” Ujarnya.

“Apa?”

My man of fate!” dia menatapku dengan berbinar-binar “Mayaaaa ya ampuun doa gue terkabuul! Tuhan ngirim gue cowo di hari ulang tahun gueeee…”

Aku mengernyitkan dahiku dan berdesis. “Man of fate? Oh sis how could you believe such thing? Dan lo bahkan ga tahu namanya.”

“Aduuh lo kok gitu sih? Makanya kejar dia yuuk May…” dia menarik tanganku namun aku tetap bergeming. “Ahhh ayuuuk.”

“Uda telat, My. Dia uda ga keliatan lagi tuh ada di mana. Lagian freak abis ngajak kenalan tiba-tiba gitu. Ntar lo dikira cewek gatel! Males banget.” Ujarku sewot sembari menyilangkan kedua tanganku di dada. “Lagian tu orang kayanya tukang sampah deh, kaosnya tuh jorok banget hiih mungutin kaleng botol lagi. Masa orang kaya gitu sih yang dikirim buat jadi pacar lo?”

“Ihh May kok lo tega bangeet siih. Itu kan namanya baik, dia ga mau orang-orang celaka kaya gue gara-gara itu kaleng!”

“Ah… uda ah males gue bahas ginian! Bahas cowo ntar aja abis makan.” Omelku.

***

-continue to read->

Advertisements

Forgotten Season

Bukan salahmu jika tangan ini menggigil…

Akulah yang tak mampu menahan perasaanku

Sedari awal aku tahu, takkan pernah lagi ada kesempatan

Saat kupandang bahumu yang berlalu

Terhalang pucuk bunga Sakura…

25 September 2010

Lina memandang dari atas halaman sekolahnya dengan lesu tak bersemangat. Sudah tiga jam dia berada di ruang kelasnya, sendiri. Gadis bertubuh tinggi itu tak henti-hentinya berdecak sambil memandang jam dinding kelasnya. Melihat gerak-geriknya, Lina sepertinya tengah menunggu seseorang namun tidak muncul di waktu yang seharusnya.

Tak sabar, Lina merogoh tas yang tergeletak di meja dekat jendela ruang kelas tersebut, mengeluarkan hpnya,dan membuka contact numbernya. Beberapa saat jarinya menekan tombol mencari nama yang dicarinya. Ketika sampai pada nama “Takashi”, jarinya lantas menekan tombol berlambang telepon. Dia meletakkan benda kecil itu di dekat telinganya dan menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian…

Ne, Lina-chan,” ujar suara laki-laki seberang.

Ne,”Lina menahan nafasnya, berusaha menahan amarah. “Ima doko ni iru no?”

“mmm… jibun no heya. Nani?”

Mendengar hal itu, ekspresi Lina berubah. Wajahnya memerah dan sejenak memejamkan mata, berusaha menahan tangannya yang saat ini ingin melempar benda kecil yang tengah ia pakai sekarang itu. Terdengar satu helaan nafas sebelum berkata, “Yakusoku… oboeru ka, Kassy-kun?” dari cara dia menggerakkan bibirnya, terlihat jelas betapa geramnya Lina. Kalau efek animasi benar-benar ada di dunia nyata, saat ini dari kedua lubang hidung plus sebelah kuping Lina yang tidak dipakai untuk mendengar dari hp akan keluar kepulan asap disertai lenguhan kekesalan.

Yakusoku? Aaaaaa… Lina-chan! Gomen ne… wasure…chata…” ujar laki-laki yang ternyata

dipanggil Kassy itu. “Tadi aku kira sudah tidak ada apa-apa, jadi aku langsung kembali ke rumah…”

Lina menggenggam keras kulit tasnya seraya menggigit bibirnya. Ukh, ano otoko

Bakaaa!” serunya sebelum akhirnya mematikan koneksi mereka berdua. Ia kemudian langsung menonaktifkan hpnya, supaya tidak menerima telepon apapun dari orang yang saat ini membuatnya benar-benar kesal. Ia memasukkan hpnya ke dalam tasnya, menyampirkan tasnya ke kanan tangan kananya, kemudian berjalan ke luar kelas dengan penuh amarah.

Selalu begini selalu begini! Pikirnya kesal dalam hati. Kenapa dia tidak pernah sedikit saja memperhatikanku dengan sungguh-sungguh? Kenapa dia begitu bodooooooooh?

Kalau melihat situasi, wajar saja Lina kesal. Pacar tersayangnya itu sudah janji padanya untuk menjemputnya di sekolah. Dia sudah menunggu sekitar tiga jam, tapi Kassy malah…

“Arkh!” ujar Lina geram sambil menendang meja di sampingnya. Ia pun segera bergegas keluar ruangan.

Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya. Terlintas keraguan di benaknya, masihkah Kassy mencintainya?

Jujur saja, bagi Lina pribadi, bisa menjadi pacar Kassy adalah satu… keajaiban mungkin? Ya, keajaiban. Lina telah mengenal Kassy sejak SMP. Mereka berdua berada di kelas yang sama. Saat itu, Kassy merupakan salah satu murid pria populer di sekolah mereka. Selain karena wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi atletis, dan otaknya yang cerdas, ia juga jago olahraga dan ramah terhadap siapa saja. Ia juga taat beribadah. Hal itu membuat banyak gadis-gadis di sekolah mereka sangat mengaguminya, termasuk Lina. Dan ketika Kassy menyatakan perasaannya pada gadis blasteran Jepang-Indonesia itu di kelas tiga, jujur saja, ia hampir tidak percaya. Lina, yang merasa biasa saja baik fisik maupu otak dan hanya punya tubuh tinggi untuk dibanggakan, bisa menarik perhatian idola satu sekolah itu. Langsung saja tanpa pikir panjang, Lina menerima perasaan Kassy saat itu juga. Wuaaaah, pokoknya saat itu, sepertinya tidak ada lagi orang yang bisa sebahagia dia.

Ketika di SMA, mereka bersekolah di tempat berbeda. Lina memutuskan untuk bersekolah di Teitan Gakkoo* yang berada dekat dengan rumahnya, sementara Kassy di Tokyo Gakkoo*, salah satu SMA unggulan di Jepang. Kassy berencana untuk mendapatkan beasiswa ke Todai dan SMA tersebut kebetulan menyediakannya, itulah sebabnya Kassy memilih SMA tersebut daripada bersama dengan Lina di sekolah yang sama. Beberapa bulan setelah masuk SMA, semuanya berjalan baik-baik saja. Kassy selalu berusaha menjemput Lina sepulang sekolah, kecuali ketika ada kegiatan ekstrakulikuler. Ya, di awal Kassy masih ‘baik-baik’ saja.

Lama-lama, ada yang aneh dengan Kassy. Belakangan, Kassy sering lupa akan janji mereka, seperti yang terjadi hari ini. Yang terjadi hari ini bahkan belum apa-apa daripada yang terjadi selama ini. Contohnya, hari Sabtu dua minggu lalu, mereka berdua berjanji untuk pergi nonton plus ke Tokyo Tower bersama. Kassy menyuruh Lina untuk menunggunya di Hana Garden Place* sekitar pukul 10.00 am supaya mereka bisa lebih mudah mendapatkan kendaraan untuk pergi ke tempat tujuan. Lina sudah menunggu di sana tepat jam 10.00, seperti yang disuruh Kassy. Dua jam berlalu, Kassy tak kunjung datang dan ketika di telepon, Ibunya berkata kalau Kassy masih tidur. Bisa dibayangkan bukan gimana kesalnya Lina? Belum lagi ketika Lina mengajak Kassy menemaninya berbelanja, cowok itu sudah berjanji untuk menemaninya. Dia bahkan berjanji untuk menjemput Lina di rumahnya. Tapi yang terjadi…

Lina mengibaskan poninya ke belakang. Ahh… Kassy-kun, nani o shiteru no? apa mungkin kau tidak menyayangiku lagi? apa mungkin kau sudah menemukan gadis lain yang lebih pintar, cantik, berkelas di sekolahmu?

Pikiran yang sama terlintas kepala gadis itu sepanjang perjalanannya menuju rumah.

***

“Uaaaaaah” uap Lina lebar. Ia meregangkan otot – otot tubuhnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat ke arah jam tangannya. “Kyu ji datta?” ujarnya pelan, sedikit kaget. Dia melihat ke arah tubuhnya yang masih dibalut pakaian sekolah. Lina baru menyadari kalau ia sudah tertidur selama empat jam, semenjak ia sampai di rumah tadi. Dia bahkan belum sempat mengganti pakaiannya.

Dengan bibir terbuka menguap dan langkah diseret, Lina keluar dari kamarnya hendak mengambil handuk dan mandi. Di luar, ia bertemu dengan ibunya—yang daripadanya ia mendapat darah Jepang. Sekedar informasi, ayah Lina, yang merupakan keturunan Indonesia, saat ini tengah bertugas ke luar negeri. Ia bekerja untuk kedutaan besar Indonesia dan saat ini, bekerja untuk kedubes Indonesia di Cina. Setiap natal serta paskah ayahnya akan kembali ke Jepang untuk beribadah sekaligus berlibur bersama. Lina hanya tinggal berdua dengan Ibunya saat ini, karena Ibunya memang tidak ingin meninggalkan Jepang. Selain itu, Lina juga masih sekolah dan rasanya sayang sekali jika harus berpindah-pindah dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Ibunya hendak mematikan lampu sebelum akhirnya ia melihat Lina keluar dari kamarnya.

“Lina, kamu baru bangun?” tanya Ibunya sembari mengusap anak semata wayangnya itu. lina mengangguk sambil menguap.  Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu. “Sudah, sana mandi. Oh ya, kamu mau mandi dengan air panas?”

‘Tidak usah, Bu. Tidak begitu dingin kok.” Lina kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Tiba-tiba, suara Ibunya menghentikannya. “Ah ne, Lina. Tadi Takashi meneleponmu.” Lina kontan berbalik dan menghampiri Ibunya. “Kassy meneloponku, Bu?” tanyanya memastikan.

Ibunya mengangguk. “Un. Tadi dia menelepon sekitar jam setengah enam. Dia bilang telepon hpmu tidak bisa, sms juga pending terus. Jadi dia telepon ke rumah. Ibu bilang kamu lagi tidur, mungkin karena kecapean. Ya sudah, itu saja”

Lina memanyunkan bibirnya dan mengangguk. “Wakatta. Arigatou, Ibu.” Ujar Lina yang kemudian berbalik, berjalan menuju kamar mandi,diiringi dengan tatapan waswas Ibunya.

Seusai mandi dan berpakaian, Lina bergegas merogoh tasnya, mengambil hpnya, dan menyalakannya. Beberapa detik kemudian, hpnya berbunyi dengan nada yang sama, berturut-turut. SMS masuk ternyata, sebanyak… 15 sms dan dari orang yang sama.

“Kassy-kun” gumam Lina. Ia kemudian langsung membuka isi sms pertama.

‘Lina-chan, gomen ne… aku benar-benar lupa. Belakangan ini tugas-tugasku menumpuk. Bahkan makanpun aku lupa…”

“Lina-chan, apa kamu marah? tolong jawab teleponku… Aku minta maaf… Jangan marah… onegaiiiii >.<”

“Lina-chan, apa yang terjadi dengan hpmu? Aku baru sadar sms ku tak terkirim…”

“Lina-chan, hontou ni gomen! Belakangan ini memang aku sering lupa… aku tidak akan mengulangi kejadian-kejadian kemarin lagi… yakusoku!”

“Lina-chan… aku menyesal…’

Tanpa sadar, Lina menitikkan airmata dan jatuh menghampiri layar hpnya. Dia mengusap airmatanya sambil terus membaca sms-sms dari Kassy. Lina menarik nafas dalam-dalam, menahan agar airmatanya tak jatuh lebih banyak lagi. sesaat kemudian, ia menggerakkan jemarinya mencari nama Kassy di kontaknya, hendak meneleponnya. Tapi sebelum ia menekan tombol ‘call’, layar hpnya berkedap-kedip disusul dengan getar dan bunyi menandakan ada telepon masuk. “Kassy-kun…”

“A… Kassy-Kun…”

“Lina-chaaan, ah akhirnya. Ada apa dengan hpmu? Kenapa dari tadi tidak diangkat?” ujar suara lelaki seberang cemas. Lina menarik hidungnya menahan ingusnya turun. “Aku mematikan hpku.”

Aaa sou ka? Ne, Lina-chan, gomen ne. Tadi siang aku benar-benar lupa. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi belakangan ini aku memang sering melupakan sesuatu. Bahkan kemarin aku lupa mengerjakan prku. Ssss… taihen desu ne?” ocehnya. Lina hanya diam saja mendengarnya.

Ne, Lina-chan, kamu masih di sana kan?”

“Un…” ucap Lina pendek. “Kassy-kun, kamu bilang di sms tadi kamu menyesal kan?”

Hai!”

“Kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi?”

Haaaaaaaiiii! Mochiron

“Kalau begitu, Sabtu minggu depan, di Levina Garden kita merayakan hari jadi kita yang kedua.Kamu… akan ingat?” tanya Lina dengan penuh penekanan.

Hosh! Oboemasuyo!”

Lina tersenyum seraya menghapus sisa airmatanya.

***

 

 

Tanggal 31 September 2011.

Lina memandang layar hpnya yang berisi gambar dirinya dengan seorang lelaki di daerah yang sama tempat dia berada saat ini. Terlihat mereka memegang sekotak kue dengan lilin berbentuk angka berdua berdiri di tengah-tengah kue tersebut di bawah pohon sakura.

Mou ichi nen datta…” ujar gadis tersebut pelan. “Aku harap kamu senang di sana, Kassy-kun” ujarnya sambil memandang ke arah langit.

Masih jelas terekam di ingatan gadis itu peristiwa menyenangkan sekaligus yang menjadi titik balik hubungannya dengan Kassy. Masih terngiang jelas gelak tawa mereka bersama ketika bertemu siang itu. Betapa senangnya Lina akan kedatangan Kassy saat itu, bagaimana Kassy dengan antusias memberikan sekuntum bunga padanya sekaligus kue sebagai tanda perayaan hari jadi mereka. Bagaimana mereka, di bawah pohon Sakura yang saat itu mulai tumbuh rimbun, bersenda gurau, bermain bersama tanpa kenal waktu, mengambil foto bersama. Sampai kemudian…

“Kassy-kun, doushita no?” seru Lina saat itu ketika melihat Kassy terjatuh dan muntah usai mengambil gambar Lina yang berdiri di bawah pohon sakura.

Kassy hanya tersenyum seraya menggeleng. Namun dari bibirnya tak mampu keluar sepatah katapun. Akhirnya ia dibawa ke rumah sakit. Di sana, tak banyak informasi yang diperoleh Lina seputar keadaan Kassy. Saat itu Lina langsung pulang begitu orangtua pacarnya itu datang. Lagipula waktu itu Ibu Lina juga menyuruhnya pulang karena Ayahnya tiba-tiba saja pulang. Selang sebulan setelah itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Hingga akhirnya, Kassy mengajaknya bertemu di Levina Garden, lagi. Walaupun baru sebulan tak bertemu, Lina tahu ada perbedaan pada tubuh pria yang sangat disayanginya itu. Wajah putihnya pucat, sementara tubuhnya yang dulu atletis terlihat begitu… kurus dan letih.

“Kita putus saja ya…”ucapan tersebut keluar dari bibirnya saat itu dibarengi dengan senyuman. Spontan, tubuh Lina bergeming. Perlahan, airmatanya mendesak untuk keluar. Tanpa sempat menanyakan sebabnya, pria itu menutup bibir gadis itu dengan telunjuknya seraya berkata, “Arigatou, Lina-chan. Berjanjilah padaku untuk selalu berbahagia. Bahagiakan orangtuamu, orang-orang di sekitarmu. Berjanjilah padaku untuk selalu berdoa ketika kamu senang ataupun sedih. Berjanjilah…” Kassy menggigit bibirnya seraya menarik nafas. Matanya terlihat basa, membuat Lina semakin terisak. “Berjanjilah untuk melepaskanku sesegera mungkin…” Kassy mengecup dahi Lina selama beberapa saat sembari mengusap kepala Lina, yang saat itu, tengah meraung.

“Kassy-kun…”

Ja, Lina-chan!” ujar Kassy yang bergegas berbalik dan meninggalkan Lina saat itu.

Berulangkali gadis itu berteriak memanggilnya tanpa punya kekuatan untuk mengejarnya. Berulangkali gadis itu meneleponnya dan mengirimnya pesan. Berulangkali gadis itu datang ke rumah Kassy. Semuanya hanya untuk minta kejelasan dari pria tersebut.  Tapi tak satupun balasan datang. Hingga akhirnya Ibu Kassy angkat bicara dan menceritakan semuanya, yang menjawab pertanyaan Lina seputar keanehan Kassy selama ini. Klise, tapi benar adanya.

Pria itu mengidap kanker otak. Sudah sejak ia lulus SMP. Penyakit tersebut menyebabkan daya ingat Kassy menurun, bahkan terhadap hal-hal yang rutin ia kerjakan. Tak heran kalau ia sering melupakan janji dan pekerjaan yang harus ia lakukan, termasuk janjinya bersama Lina. Saat mereka berdua berkencan merupakan puncak ketahanan tubuh Kassy berakhir. Dan ketika Lina mengetahui hal ini, Kassy tengah berada di Amerika Serikat bersama Ayahnya untuk menjalani pengobatan. Kassy berpesan kepada Ibunya untuk tidak memberitahukan hal tersebut kepada Lina sampai ia pergi ke AS.

Secara rutin Ibunya memberitahu Lina seputar perkembangan Kassy. Dan dua hari yang lalu, Lina mendapat kabar terakhir dari Ibu Kassy. Ya, kabar terakhir… benar-benar terakhir.

Lina mendesis seraya menggigit bibirnya tatkala mengingat kenangan tersebut. Tanpa sadar, dompet yang ia pegang bergetar. Tak kuat, Lina mendekatkan dompet tersebut ke wajahnya. Terdengar isak tangis setelahnya.

Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka matanya. Terlihat olehnya bayangan seorang pria berlari, berlalu dari hadapannya. Terlihat oleh Lina bahunya yang tinggi namun lesu bergerak mengikuti langkah kakinya yang cepat. Dan ketika angin berhembus menggoyangkan pokok bunga Sakura, bayangan tersebut menghilang.

Atashi… kimo wo sugu hanasuyo.”

NB : *lokasi tersebut murni imajinasi penulis.

Abel

Kehadiran anak itu benar-benar membuat hidupku semakin ceria, berwarna, dan… berarti.

Tak bisa kubayangkan seandainya sepanjang hidupku, di rumahku tercinta, aku hanya hidup bersama suamiku tanpa bisa memberikan kepadanya seorang manusia mungil lambang dan penerus cinta kami berdua.

Tak bisa kubayangkan seandainya sepanjang hidupku, aku tinggal dalam ketidaksempurnaan, sebagai seorang perempuan!

Kata orang, hidupku benar-benar lengkap. Hidupku sempurna, menjadi dambaan setiap wanita yang menyaksikannya, membuat iri, membuat kepingin. Hidupku terlalu baik untuk kutangisi, malah seharusnya kusyukuri.

Sejak aku dilahirkan, aku telah merasakan apa yang mereka katakan sebagai kenikmatan dunia. aku dan keluargaku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta. Ayahku seorang pengusaha kelapa sawit yang sangat sukses. Ibuku merupakan wanita keturunan ningrat dan memiliki butik yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, bahkan ia mempunyai satu cabang di Singapura. Aku adalah anak mereka satu-satunya, oleh karenanya apapun yang kuminta mereka pasti memberikannya. Rumah yang begitu besar dengan taman yang luas merupakan tempat bermainku sejak kecil bersama dengan teman-temanku. aku disekolahkan bersama dengan anak-anak berkelimpahan lainnya di sebuah taman kanak-kanak yang sangat dikenal oleh masyarakat. Kemudian ketika aku mencapai sekolah dasar hingga menengah keatas aku aku disekolahkan di Singapura dan dimasukkan ke asrama untuk mengasahku menjadi pribadi yang mandiri—begitulah kata orangtuaku. Di sana, aku cukup berprestasi. Aku berhasil menjadi juara 1 sepanjang masa sekolahku dan menjuarai 4 kompetisi pidato tingkat sekolah dan nasional. Teman-temanku juga banyak, dan aku sempat membina hubungan spesial dengan seorang anak laki-laki berwajah rupawan dan cerdas di sana yang bernama George—blasteran Inggris-Cina—namun hubungan itu tidak berlangsung lama karena ketika kuliah, aku kembali ke Indonesia. Ya, meskipun aku merasakan kenikmatan hidup di sana, entah kenapa aku tidak bisa menolak ketika orangtuaku menyuruhku untuk kembali ke Indonesia. Mungkin karena rasa cinta dan rinduku kepada negeri itu yang membuatku memutuskan untuk kembali. Di sana, aku kuliah di sebuah universitas negeri yang katanya merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Aku masuk ke Fakultas Kedokteran, sesuai dengan apa yang aku cita-citakan selama ini. Tahun pertamaku kulalui dengan sangat baik. ketika tahun kedua, aku membina hubungan spesial dengan kakak kelas yang—katanya – sejak pertama kali melihatku pada masa orientasi telah jatuh hati padaku. Pendekatan kami berlangsung selama setahun. Jujur, dia tidak lebih tampan dari George, tinggi tubuhnya juga biasa saja. Wawasannya luas dan aktif berorganisasi, namun dalam hal akademis, dia biasa-biasa saja. Benar-benar jauh berbeda dari George, yang merupakan cinta pertamku. Namun, entah kenapa, dengannya aku merasa nyaman, ingin selalu memberi dan memberi kasih. Hubungan kami berlangsung hingga ke jenjang pernikahan. Ia menjadi seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta sembari mengambil S2 sementara aku memutuskan untuk membuka klinik di rumah. Kata mereka, hidupku benar-benar tidak punya kekurangan. Aku juga berpikir begitu, hingga akhirnya berita buruk itu menghampiri keluarga kecil kami.

Empat tahun kami menikah, namun kehadiran gelak tawa maupun tangis seorang anak belum mengisi rumah tangga kami. Suamiku tidak terlalu peduli akan hal itu, akulah yang begitu mempermasalahkannya, hal itu membuatku merasa tidak sempurna, berbeda. apalagi ketika melihat teman-temanku yang lain yang sudah memiliki anak bahkan di tahun pertama mereka menikah. Akhirnya, kami memutuskan untuk periksa ke dokter. Dan masalah ternyata ada padaku. Ada sebuah tumor di sana yang menghalangi kami—ku – untuk mempunyai seorang anak. Setelah mendengarnya, aku menangis. Suamiku memegang pundakku dan senantiasa membisikkan kata “tidak apa-apa, Bela”. Namun, hal itu membuatku sedih sekalipun aku bersyukur hanya tumor yang mendiami rahimku. Saat itu juga, aku menyatakan aku ingin dioperasi, untuk mengangkat tumor ini dari tubuhku. Operasi dijalankan dua minggu setelah pemeriksaanku. Sehari sebelumnya, aku bersama dengan suami dan orangtua kami masing-masing berdoa untuk kelancaran operasiku. Keesokan harinya, operasi berjalan. Yang diberikan kepadaku sepertinya bukan bius total, karena aku masih mendapati kesadaranku ketika operasi itu berlangsung dan aku berdoa saat itu kepada Tuhan.

Syukur kepada Tuhan, operasiku berjalan dengan saat lancar. Proses penyembuhanku juga hanya berlangsung seminggu. Semangatku untuk mempunyai anak semakin tinggi saja. Suamiku pun terlihat bahagia karena keberhasilan operasiku, dia berkata dia bersyukur karena dia sama sekali tidak kehilangan diriku. Aku mengiyakan dalam hati, menambahkan juga kalau aku bahkan akan menambahkan kepadanya seorang lagi dalam kehidupan kami.

Akan tetapi, setelah itu, aku harus menunggu lagi. setahun setelah operasi, masih saja tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang anak dalam hidup kami. Aku mulai frustasi, semakin kecewa ketika mendengar suamiku berkata bahwa aku terlalu berlebihan. Tidak mempunyai anak bukanlah suatu hal yang buruk , ia pernah berkata, dan mempunyai anak tidak akan membuatku menjadi wanita sempurna. Aku hanya bisa menangis sendiri. hingga suatu hari, aku benar-benar pasrah. Aku bahkan tak lagi memaksakan Tuhan untuk memberikan anak kepada kami bila memang Dia tidak berkenan. Hubunganku dengan suamiku perlahan membaik kembali dan kami memutuskan untuk berlibur menenangkan diri ke salah satu tempat di Bali.

Sebulan setelahnya, aku merasa ada sesuatu yang beda terjadi dengan tubuhku. Rasa mual, tidak enak badan melanda tubuhku. Saat itu, aku merasa yakin sedang ada satu kehidupan terbentuk dalam tubuhku. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku pergi ke dokter dan mendengar kalimat dari dokter itu benar-benar membuatku gembira. Aku hamil. Langsung kuberitakan hal ini pada suamiku, orangtuaku, dan mertuaku. Mereka begitu bahagia mendengarnya…

Dan sekarang, anak itu telah lahir. Abel namanya. Diambil dari huruf depan namanya dan beberapa huruf namaku. Adrian-Bela. Kami masih belum memikirkan nama panjangnya. Kami begitu bahagia—aku begitu bahagia.

Aku begitu bersyukur karena aku diberikan kesempatan untuk memiliki Abel, diberikan kesempatan untuk memberi seorang anak untuk suamiku. Aku merasa sempurna sebagai seorang wanita. Aku benar-benar bersyukur atas kehidupan yang Dia berikan.

Sekarang, hidup sempurnaku baru dimulai. Bersama suamiku, dan pujaan hati kami, Abel.